Jumat, 19 Oktober 2018

Terserah

Someplace to be alone.


Saya sedang tidak paham dengan hidup saya saat ini, kembali tersesat.

Saya sadar, luka saya di masa lalu belum sembuh dan terus mengupayakan diri ini pulih sepanjang tahun ini.

Doa saya selalu dan masih sama sampai sekarang, saya hanya ingin sembuh dari masa lalu.

Tak pernah saya putus untuk mendoakan hal itu, sepanjang malam, sepanjang saat teduh saya, berharap saya segera bisa lepas darinya dan kemudian menemukan sosok baru yang tepat untuk saya di masa depan.


Sabtu, 22 September 2018

(Belajar) Ikhlas

Twitter - @yowesrapopo21



Bahwa benar, sampai sekarang terkadang saya masih berharap semua baik-baik saja seperti sedia kala.

Bahwa benar, saya masih berharap apa yang terjadi pada saya adalah hanya sebuah mimpi dan saya hanya perlu bangun untuk menghilangkanmu.

Bahwa benar, terkadang saya masih berharap bisa kembali bersama seperti dulu, mengulangi lagi cerita-cerita indah yang pernah dilalui bersama.

Rabu, 22 Agustus 2018

Masih Sama

Oh, hai...

Saya pikir, saya tidak akan kembali ke blog ini untuk berkeluh kesah soal hal yang sama seperti beberapa bulan terakhir ini.

Dan, ya, saya salah lagi.

Saya kira, saya sudah baik-baik saja, saya kira semua sudah kembali ke sedia kala seperti diri saya sebelum pertemuan itu. Saya kira dan saya kira.

Dan ternyata, saya masih orang yang sama dengan perasaan yang masih tertinggal dan masih sama besarnya sejak membiarkannya masuk dalam kehidupan saya, merelakan ditinggal pergi hingga saat ini.

Saya masih orang yang sama, yang belum bisa berhenti untuk memikirkan dan juga menyebut namanya di tiap doa-doa saya.


Minggu, 22 Juli 2018

Semoga untuk yang Terakhir Kalinya

Some space to be alone at office



Aku lelah,

Dan aku menyerah.

Aku mengakui diri ini kalah dengan bayang-bayangmu yang masih setia menghampiri.

Aku mengakui diri ini belum bisa melupakan segala hal baik yang pernah kita lalui.

Aku mengakui, perasaan ini tertinggal dan masih sama dan belum pernah berubah.

Aku kalah.

Dan segala usaha yang kulakukan semuanya sia-sia belaka.


Jumat, 22 Juni 2018

Amnesia





Hingga detik ini, aku menyadari bahwa aku masih belum bisa baik-baik saja setelah perpisahan itu. Perpisahan hampir enam bulan yang lalu, tapi sampai saat ini sosokmu masih menguasai pikiran dan hatiku.

Meski aku tak pernah berniat memikirkanmu.

Meski aku tak pernah berniat untuk mengingatmu lagi.

Kenangan tentangmu selalu datang tanpa peringatan dan solusi.

Bayang-bayangmu masih ada, tersimpan rapi di pikiran dan hatiku, ingin melepaskannya, tapi entah kenapa tidak bisa,


Rabu, 13 Juni 2018

Good Vibes in Semarang




Nggak kerasa, bulan Ramadan udah mau kelar aja eh? Kayaknya baru aja kemarin ngeliatin temen-temen kantor pada berjuang puasa di hari pertama mereka. Kayaknya baru aja kemarin bukber berjilid-jilid bareng temen-temen. Time always flies so fast! Jodoh gue aja yang kagak fast. #ehgimana.

Ini adalah tahun kedua gue merasakan bulan Ramadan di Solo dan di pekerjaan yang sekarang. Kalo tahun lalu, gue dan temen-temen kantor lainnya merasakan bulan puasa di ruko, tahun ini kita udah menjalaninya di kantor yang beneran gedung kantor. Puji Tuhan, alhamdulillah ya ada kemajuan dalam kurun waktu satu tahun.

Jumat, 08 Juni 2018

Yogyakarta, Art Jog untuk Kedua Kalinya

Art Jog 2017 - Art Jog 2018

Sebelum gue melanjutkan cerita trip ke Bali yang part pertamanya bisa dibaca di sini, kali ini izinkan gue menceritakan dulu perjalanan gue yang lainnya. 

Huahaha, setelah dari Jakarta ketemu Abang Tulus, beberapa minggu kemudian gue main ke Yogyakarta. Sampe-sampe banyak yang nyeletuk,

“Maeeeeen mulu lu, Buullll”

Yaudah, santai aja gue jawab.

“Biarin, mainnya juga ke mana-mana, daripada mainin perasaan orang. Apalo”

Ngehek ya? Biarin, orang emang gue hobinya main ke sana kemari dan tertawa. Dan gue juga udah nyebutin di beberapa postingan sebelum ini, gue emang lagi banyak melakukan perjalanan, sengaja.

Untuk apa? Untuk menyembuhkan hati yang barusan terluka lagi. Iya, emang cara gue untuk menyembuhkan diri gue sendiri begini. Daripada melampiaskannya ke orang lain, yang ada gue malah nyakitin juga kan ujung-ujungnya?

Nggak enak shay hatinya disakitin, rasanya beuh mantap jiwalah. Kalo boleh gue ogah lagi sih ngerasainnya. He.

So, setelah Jakarta, tujuan gue kali ini adalah Yogyakarta, entah udah berapa kali udah ke kota gudeg itu, selalu ada aja hal yang membuat gue kembali ke sana.

Kali ini tujuan gue ke Yogyakarta tetep nggak jauh-jauh tentang Abang Tulus sih. Mehehehe.

Jadi, gue Yogyakarta selain pengin silahturahmi sama sahabat yang dulu sekantor sama gue, Tintin, gue juga pengin ke Art Jog 2018.

Sebenernya nggak ada niatan apapun ke Art Jog 2018, karena gue emang bukan anak seni yang artsy-artsy geula gitu.

Tapi yang membuat gue tertarik ke Artjog tahun ini adalah, ada karya fotografer yang kolaborasi sama Abang Tulus.

Waw, tentu saja gue langsung tertarik dong dengan karya-karyanya Abang selain di bidang permusikan.

Apalagi waktu acara Santap Siang Bersama Tulus beberapa pekan yang lalu, ada yang nanya soal karya Abang di Art Jog 2018 ini dan dijawab Abang,

“Ada karya saya di Art Jog? Ya sebenarnya saya pengin mengeksplorasi kemampuan aja sih, pengin nyobain selain di bidang musik

Begitu kata yang mulia Tulus dan semakin membuat gue penasaran sama Artjog tahun ini. 

Tahun lalu, sebenernya gue udah ke Artjog, tapi itu juga karena iseng dan pilihan random, tiba-tiba yang nggak jelas waktu nemenin cobatz bloger gue, Uda Irfan waktu main bareng ke Jogja.

Iya, setahun yang lalu gue disamperin sama manusia satu ini di Solo, bela-belain jauh-jauh dari Bukittinggi, terus kebetulan dapet kerjaan di Jakarta, terus dimanfaatin sama jomlo lapuk ini buat ketemu sama gue.

So sweet ya? Eheum.

Jadi, ke Art Jog tahun 2017 itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang beneran absurd banget, karena begitu nyampe Jogja kita berdua malah nggak tahu mau ke mana. Terus tahu-tahu ke Art Jog aja deh, padahal ngerti seni juga kagak. 


Senin, 04 Juni 2018

Rumah

Lope-lope di udara

Bulan lagi suka banget sama satu lagu, dan itu gue puter dan denger terus berulang kali sampe gumoh.

Baru-baru ini gue lagi asyik ngulik lagu-lagunya Fiersa Besari gara-gara direkomendasiin Muhammad Irfan, cobatz bloger gue yang ngehek abis kelakuannya.

Yes, gue tahu lagu-lagunya Fiersa Besari karena pertama kali dikasih sama Uda Irfan ini lagu yang berjudul 'Epilog'. 

Gue yang masih dalam masa-masa galau terus dikasih sama Uda Irfan lagu itu, langsung rapuh lagi hatinya. Tampang aja sangar sih gue, tapi paling lemah kalo udah urusan hati. Aelah eeque kuda.

Tapi lagunya Fiersa Besari yang berjudul 'Epilog' itu lirik dan musiknya bagus banget, apalagi buat orang yang lagi sedih, tahu sendirilah, orang sedih kalo denger lagu pasti memahami liriknya, bukan sekadar dengerin musiknya doang.

Dari lagu 'Epilog' itulah, gue mulai ngulik lagu-lagunya Fiersa Besari. Dan bukannya menguatkan gue, yang ada makin bikin gue tenggelam dalam lautan luka dalam gara-gara lagu-lagu biadabnya Fiersa Besari ini. Hei, Uda Irfan, makasih banyak lho ya bantuannya. Wow, amat sangat membantu gue yang susah move on. Tengs a lot beb. Emuah. 

Tapi ada satu lagu yang enggak bikin patah hati gue makin menjadi, yang ada malah membuat gue tersenyum mengingat orang-orang yang sayang dan mendampingi gue selama bertahun-tahun. 

Akhirnya, ada juga lagu karya Fiersa Besari yang bisa membuat hati gue mendadak hangat dan bibir ini melengkungkan senyuman saat mendengarnya. 

Lagu ini berjudul 'Rumah', nggak heran kan kenapa gue jadi inget orang-orang yang gue sayangi dan menyayangi gue?

Gini nih liriknya

Kamis, 17 Mei 2018

Santap Siang Bersama Tulus

Abangnya akuuuuuu.



Setelah beberapa waktu yang lalu liburan ke Bali dan tulisannya belum kelar di sini, Bulan masih melakukan perjalanan lagi, dan kali ini ke Jakarta. Puji Tuhan sekali memang gue sedang melakukan banyak perjalanan buat membahagiakan diri sendiri sebelum bisa membahagiakan orang lain.

Dan di segala kondisi gue, entah kenapa Abang Tulus bisa menjadi sosok yang hadir di waktu yang tepat. Dari yang gue lagi seneng sampe terpuruk, gue selalu ngerasa Abang selalu ada di deket gue, entah melalui karya-karyanya, senyumannya, energinya di panggung dan bahkan melalui perjumpaan langsung. Abang selalu ada. :)

Jadi ngapain gue ke Jakarta?

Jumat, 04 Mei 2018

Bali Trip Part 1: Hari Pertama yang Random dan Hampir Ketemu Mantan Gebetan

Fly to Bali


Huwow, akhirnya bisa meluangkan waktu buat menulis perjalanan gue ke Bali beberapa waktu yang lalu. 

Yes, setelah satu tahun bekerja di tempat yang lebih baik daripada sebelumnya, akhirnya gue bisa liburan yang jauhan dikit sama sahabat-sahabat pake uang gue sendiri. Litteraly liburan, bukan embel-embel kerjaan, menang lomba, atau yang lainnya. Aw, gue bangga sama diri gue sendiri.

Dan akhirnya juga, setelah melewati bulan-bulan yang cukup melelahkan, berat, dan penuh dengan air mata, ada juga waktu buat gue menenangkan diri bersama sahabat-sahabat lama yang paling mengerti gue.

Yap, saat ini gue sedang patah hati, oleh banyak hal, banyak kehilangan, banyak pertengkaran, kekecewaan, dan keraguan.

Dan ini patah hati terhebat yang pernah gue rasain lagi setelah beberapa tahun udah bisa sembuh dari luka lama. Gue patah hati lagi karena cowok. Hahahagoblokhahaha.

Kamis, 26 April 2018

When Everyone has Gone

Some space at office

Hari ini, semuanya berjalan seperti biasa, ngantor, menyelesaikan target kerjaan, rapat strategi, ketawa-ketiwi sama rekan-rekan di kantor. 

Semuanya tampak biasa aja, sampe pada akhirnya ketika kerjaan udah kelar dan bergegas keluar kantor untuk pulang mengendarai motor menembus dinginnya malam hari di Solo yang sudah tampak sepi, tiba-tiba gue menangis.

Belum ada setengah perjalanan menuju kosan, nggak tahu kenapa air mata ini mengalir saat gue masih berada di atas motor, meski memang sempat mengendarai motor sambil bengong dan pikiran melayang ke mana-mana.

Malam ini, dinding pertahanan gue runtuh lagi, gue kalah lagi sama rasa sedih gue karena........


Sabtu, 07 April 2018

Bandung dan Berdamai dengan Diri Sendiri


Somewhere in Lembang



3 bulan pertama di tahun 2018 penuh dengan hari-hari berat yang mesti gue lewatin dengan kekuatan ekstra dan napas yang lebih panjang daripada biasanya.

3 bulan pertama gue di tahun 2018 benar-benar bikin gue ngos-ngosan dan entahlah, mungkin saat ini gue emang sedang ditempa habis-habisan oleh sang pemilik semesta.

Gue mengalami banyak momen-momen nggak terduga, gue banyak kehilangan orang-orang yang gue sayang, gue juga mulai bosan dengan pekerjaan yang gue rasa gitu-gitu aja, banyak yang resign juga memengaruhi psikis gue untuk ingin ikutan resign pula. Semuanya campur aduk jadi satu. Udah nggak bisa berkata-kata lagi gimana rasanya ngalamin itu semua.

Terlebih lagi ketika gue harus kehilangan sosok yang udah berhasil membuka hati gue lagi setelah sekian lama tapi kemudian pergi, dengan segala omong kosongnya yang bodohnya sempet gue percaya. Hancur? Absolutely yes. 

Dan gue menyadari 3 bulan pertama di tahun 2018 ini adalah masa-masa diri ini berada di titik paling terendah. I lost hope, I lost my self esteem, I feel I lost everything, feel unworthy and unloved. 


Minggu, 25 Maret 2018

Sudut Kenangan: Mc'Donalds dan Colokannya

Capture YouTube/McDonald's ID


Nggak tahu kenapa, malem ini gue kepikiran Azkar, salah satu sahabat terbaik gue yang kini terpisah jarak. 

Gue udah sering menceritakan Azkar di blog ini, dia sahabat cowok terdekat yang masih terus setia ngedampingi gue sejak zaman awal kuliah sampe sekarang kita udah kerja. Intinya, dia adalah sosok sahabat terbaik yang gue punya sekarang ini. He knows me better than anyone else did. He knows everything about me. From the good until the bad things. And the important thing, he accepted the whole who I am.

Dan semenjak lulus kuliah, intensitas kita buat main, ketemuan, ngobrol, bahkan sekadar chatting-an udah jauh berkurang dibandingkan waktu zaman kuliah. Tapi gue memaklumi hal itu, karena kita juga punya kesibukan, mimpi, dan masa depan masing-masing.

Selama kita masih keep in touch dan saling perhatian serta peduli, gue rasa itu sudah cukup dan Puji Tuhan kita udah bisa mempertahankan hal itu sampe sejauh ini.


Kamis, 15 Maret 2018

Beda Menulis di Media Massa dengan di Blog, Apa Hayo?


Kolase/BookBaby Blog/Losta Institute



Daaan, yaaap, terima kasih Warung Bloger yang sudah ngasih hukuman buat gue yang terlambat di sesi saling komentar blog kali ini. 

Seenggaknya ada tulisan baru lagi di blog gue dan dikasih tema yang lumayan berfaedah. 

Gue menulis tulisan ini setelah seharian penat di kantor dengan segala kepuyengan gue soal kerjaan, jadi maaf aja kalo ini tulisan nanti agak nggak rapi dan mungkin rada ngelantur. Huahaha.

Tapi gue seberusaha mungkin tetap sadar saat menulis ini *yaiyalah* dan tentunya serelevan mungkin dengan tema dan penjelasan gue nantinya.

Jadi, gue dikasih tema sama Om Andhika Kangen Band soal bedanya menulis buat di media massa dan di blog.

Beberapa orang dan para pembaca khilaf gue mungkin udah tahu kalo sekarang gue bekerja di sebuah media massa online sebagai reporter atau lebih gahulnya zaman sekarang disebutnya content writer. 

Jadi, tentu ada perbedaan yang signifikan saat gue menulis di pekerjaan dan juga di blog gue pribadi.

Apa sih bedanya? 

Senin, 12 Maret 2018

Solo: antara Perjuangan, Mimpi, dan Dilema

Somewhere in Solo


Postingan ini udah mangkrak di draft selama satu tahun, hanya judul dan isi masih kosong. Buahaha.

Sesibuk itukah gue? atau guenya aja yang males yak? Kalo nulis yang galau aja gercepnya naudzubillah.

Dasar anak muda. *gue emang masih muda, ga usah protes lo pada*

Baiklah setelah lagi sering galau dan menyadari bahwa itu tidak sehat bagi kesehatan jiwa gue, mari melanjutkan sesuatu yang sudah gue mulai dulu.

Memfokuskan lagi ini blog buat hal baik-baik aja, sementara untuk nyampah hal-hal negatif, gue menulis di sini forcebewithme.tumblr.com.

Ehem....

Minggu, 25 Februari 2018

Untuk Tuan yang Singgah Sejenak

Hai, Tuan...


Akhirnya kita berakhir di sini, ya? 
Iya, di sini, di penghujung jalan yang sebenarnya kita sama-sama berat untuk mengatakannya.
Mungkin memang tidak adil untuk aku yang baru saja membuka hati untuk orang baru lagi. 
Mungkin tidak adil untuk kamu yang terombang-ambing oleh keadaan.
Tapi aku menyadari, ada keunikan yang kamu miliki yang membuat ini terjadi.
Keunikanmu itu yang harus aku pahami dan mengerti. 
Iya, aku lebih suka menyebutnya keunikan dibandingkan kekurangan. 
Karena menurutku, setiap manusia punya sifat uniknya masing-masing.


Jumat, 16 Februari 2018

Film Favorit



Capture YouTube (Sheila On 7 Tv)


Waaaaw, sudah lama sekali gue nggak nulis lirik-lirik lagu favorit gue di sini. Kalo ditelisik, banyak banget tulisan gue yang membahas lirik-lirik lagu yang terselubung curhat di blog ini.

Iya, suka sekali gue nulis lirik-lirik lagu yang lagi sering gue denger atau yang lirik lagunya lagi 'wah gue banget nih!'.

Karena, selain tulisan sendiri yang bisa mengekspresikan diri ini, lirik-lirik lagu itulah yang bisa menggambarkan apa yang gue rasain di saat gue udah kehabisan kata-kata.

Ditambah dengan melodi dari lagu-lagu itu yang bisa banget kayak menyentuh hati gue *njaaay berat*. But seriously, musik kayak udah jadi kebutuhan gue sehari-hari, sih. Musik bisa menyelamatkan diri gue sendiri juga, musik adalah teman di saat tak ada kawan di sisi. Musik itu penting banget buat gue meskipun nggak bisa main alat musik apapun. (Ini rada sirik sih, di antara 3 anak-anaknya Papa Mama, cuma gue doang yang nggak bisa main alat musik. Kzl. -__-")

Ada beberapa tulisan lama gue soal lirik-lirik lagu yang keadaanya gue banget kayak gini, sapa tahu ada yang mau baca lagi, biar visitor blog gue naiklah setelah hampir setahun nggak gue jamah. #yha #hambavisitor. 

Nih, beberapa tulisan gue soal lirik-lirik lagu >>> 'The Age of Worry''Kau Datang Lagi''Hard to Say I'm Sorry', 'Details in The Fabric', 'Jatuh Hati''Tak Pernah Padam', 'Sementara' & 'Jangan Berhenti Mencintaiku'.

Selasa, 13 Februari 2018

Random Thoughts: Tentang Kehilangan

Credit; Quote Ambition



Bulan Februari ini menjadi bulan yang cukup berat buat saya. 

Ha, 2018 baru berjalan sampai Februari, tapi beban hidup rasanya sudah banyak saja. Puji Tuhan. 

Dan tak terasa, saya sudah satu tahun hidup merantau di Solo, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan impian dan passion saya di sini. Satu tahun sudah. How time flies so fast ya. 

Meski baru satu tahun di sini, sudah banyak sekali cerita dan kenangan yang saya alami di sini. Mulai dari yang menyenangkan sampai menyebalkan. Menyedihkan sampai menyakitkan. Saya rasa semuanya sudah saya rasakan di sini.

Drama politik kantor dan pertemanannya di sini pun juga sudah saya rasakan. Menemukan sosok baru yang mengisi hati saya pun Puji Tuhan juga sudah. 

Namun, dua hal yang sebenarnya saya tidak suka dari perjalanan hidup saya yang tahun ini menginjak usia 25 tahun. 

Saya tidak suka perpisahan. Saya tidak suka kehilangan. Bahkan saya membenci hal itu. Dua hal itu musuh terbesar saya. 

Tapi, sebagai manusia yang bukan pengatur semesta, saya harus memahami dan menerima bahwa dua hal itu adalah hal yang memang harus saya alami, lewati, lalui, rasakan, nikmati. 

Beberapa perpisahan dan kehilangan yang terjadi di Solo ini, membuat saya mengingat kembali perpisahan dan kehilangan terbesar dan terberat yang pernah saya alami selama hidup saya ini.

Senin, 12 Februari 2018

Random Thoughts

Yak, mengawali postingan pertama di tahun 2018 dengan tulisan random hasil dari pikiran yang berkecamuk dan ditulis di sela-sela bekerja karena kepala rasanya sudah mau meledak karena pikiran-pikiran yang ada.

Ditambah saya bete karena headset saya, yang notabene adalah benda terpenting untuk menjauh dan mengacuhkan dunia rusak dan saya terganggu dengan suara-suara lain yang masuk ke telinga dan pikiran saya.

Saya menulis, karena ini cara terbaik saya untuk meluapkan apa yang saya rasakan. Saya payah soal berbicara, bercerita langsung menjelaskan semuanya. 

Melalui tulisanlah saya bebas berekspresi dan mengungkapkan segala sesuatunya secara detail dan merinci. 

Saya bukan pencerita yang baik, itu sebabnya saya lebih suka bercerita melalui tulisan.

Mungkin, itu sebabnya saya lebih suka menjadi pendengar bagi banyak orang dan tidak pernah bisa bercerita seterbuka mungkin kepada siapapun. 

Setiap bercerita, tenggorokan seolah tercekat dan tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya.

Biasanya saya menuliskan keresahan saya di blog ini >> The Fragment of Life, blog yang dikelola bersama sahabat terbaik saya. 

Namun, saya lupa password dan email-nya, terlebih sudah tidak diurus karena kesibukan kami masing-masing.

Okay, apa pikiran yang kali ini mengganggu saya?