Senin, 04 Juni 2018

Rumah

Lope-lope di udara

Bulan lagi suka banget sama satu lagu, dan itu gue puter dan denger terus berulang kali sampe gumoh.

Baru-baru ini gue lagi asyik ngulik lagu-lagunya Fiersa Besari gara-gara direkomendasiin Muhammad Irfan, cobatz bloger gue yang ngehek abis kelakuannya.

Yes, gue tahu lagu-lagunya Fiersa Besari karena pertama kali dikasih sama Uda Irfan ini lagu yang berjudul 'Epilog'. 

Gue yang masih dalam masa-masa galau terus dikasih sama Uda Irfan lagu itu, langsung rapuh lagi hatinya. Tampang aja sangar sih gue, tapi paling lemah kalo udah urusan hati. Aelah eeque kuda.

Tapi lagunya Fiersa Besari yang berjudul 'Epilog' itu lirik dan musiknya bagus banget, apalagi buat orang yang lagi sedih, tahu sendirilah, orang sedih kalo denger lagu pasti memahami liriknya, bukan sekadar dengerin musiknya doang.

Dari lagu 'Epilog' itulah, gue mulai ngulik lagu-lagunya Fiersa Besari. Dan bukannya menguatkan gue, yang ada makin bikin gue tenggelam dalam lautan luka dalam gara-gara lagu-lagu biadabnya Fiersa Besari ini. Hei, Uda Irfan, makasih banyak lho ya bantuannya. Wow, amat sangat membantu gue yang susah move on. Tengs a lot beb. Emuah. 

Tapi ada satu lagu yang enggak bikin patah hati gue makin menjadi, yang ada malah membuat gue tersenyum mengingat orang-orang yang sayang dan mendampingi gue selama bertahun-tahun. 

Akhirnya, ada juga lagu karya Fiersa Besari yang bisa membuat hati gue mendadak hangat dan bibir ini melengkungkan senyuman saat mendengarnya. 

Lagu ini berjudul 'Rumah', nggak heran kan kenapa gue jadi inget orang-orang yang gue sayangi dan menyayangi gue?

Gini nih liriknya



Ratapanmu mengiringi kepergian kali ini 

Sungguh kubenci tinggalkan tempat kita rajut mimpi

 Bersabarlah sejenak 

Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah 

Bentangan kilometer, untukmu, akan kutempuh 

Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah 

Di pelukanmu, sayang, aku akan pulang 

Sekantong rindu bekalku menemani perjalanan

 Di kejauhan, masihkah aku hiasi benakmu? 

Jika lelah, ingatlah
Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah 

Bentangan kilometer, untukmu, akan kutempuh 

Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah
Di pelukanmu, sayang, aku akan pulang 

Jariku kan pulang pada genggamanmu 

Bibirku kan pulang pada keningmu 

Tubuhku kan pulang pada dekapanmu

 Sejauh apa pun kita, hatiku di sebelahmu

Jariku kan pulang pada genggamanmu 

Bibirku kan pulang pada keningmu 

Tubuhku kan pulang pada dekapanmu

Sejauh apapun kita, hatiku tertinggal di sebelahmu





Fiersa Besari - Rumah

******
Yeess, lagu ini langsung bikin gue inget sama orang-orang terdekat gue. Orang-orang yang bisa gue sebut rumah. Karena sejauh apapun, gue selalu balik lagi ke mereka. Gue selalu membutuhkan mereka dan selalu menjadi tempat gue untuk pulang.

Adalah mereka yang gue sebut rumah, tempat gue kembali dari segala petualangan gue di dunia ini *aihsedap*.

Kurang kakak perempuan gue aja sih ini yang susah banget buat kumpul full team
Sayang-sayangnya akuuuuhh



Yap, ketika gue mendengar lagu ini, yang terbesit di otak gue adalah mereka. Mereka inilah yang mengenal dan mengetahui sedalam-dalamnya gue. Mereka yang tahu gue kayak apa, baik-buruknya gue mereka paham. 

Mereka adalah orang-orang yang mau mengerti dan memahami seorang gue dengan segala keanehan dan kekurangan gue. Gue emang nggak punya banyak temen, tapi gue udah merasa cukup punya mereka, ya karena mereka yang paling tahu segala hal tentang gue dan yang paling penting adalah, mereka mau menerima apa adanya gue, memahami seorang Bulan yang kadang juga nggak bisa memahami dirinya sendiri, dan yang paling penting, yang nggak pernah meninggalkan gue meski udah tahu segala kejelekkan gue. Mereka memilih untuk tetap di samping gue dan nggak pergi. :')

Mereka tempat gue bisa menceritakan dan mencurahkan apapun yang sedang gue rasakan dan alami. Malah terkadang, rasanya nggak afdol kalo nggak menceritakan semuanya ke mereka. Gue merasa mereka harus tahu dengan apa yang sedang gue hadapi dalam hidup.

Mereka-mereka yang tiap bulan rutin bertanya, 'Kamu kapan pulang?', kalimat pengganti 'Aku kangen kamu' yang selalu menghangatkan hati gue.

Bahkan, patah hati yang terakhir aja gue ceritakan ke Mama, meskipun awalnya gue nggak mau cerita karena nggak mau nambah beban beliau, tapi gue merasa butuh doa darinya, agar gue bisa melalui kesedihan dan sembuh dari luka ini karena bantuan doanya. Sudah nggak asing lagi kan kekuatan doa dari sang ibu? That's why I told her, cause I need her pray, I need a strenght from my mom. Meski reaksinya beliau marah-marah waktu tahu anaknya patah hati gara-gara cowok. Hahahaha.

My forever love. Uwuwuwu.

Tiap bait dari lagu bener-bener mengingatkan gue sama mereka. Tiap kali mendengarkan lagu ini, gue otomatis tersenyum karena otak ini langsung mengingatkan gue akan kenangan-kenangan bareng mereka.

Lagu ini seolah menceritakan perjalanan hidup gue yang memulai merantau jauh dari segala hal yang gue sayang untuk pertama kalinya di Solo. 

Ratapanmu mengiringi kepergian kali ini 

Sungguh kubenci tinggalkan tempat kita rajut mimpi

 Bersabarlah sejenak 


Lirik di bait pertama ini mengingatkan waktu pertama kali gue mau meninggalkan Semarang untuk bekerja di Solo.

Gue nggak nyangka kalo mereka bakal sedih waktu gue udah siap berangkat. Teringat kalimat-kalimat dari mereka yang terlontar sebelum gue pergi.

"Uyan, sering-sering pulang ya, Mama kan sendirian di rumah" itu dari Mama.

"Yah, sekarang kita susah dong kalo main?"

"Baik-baik lu di sana, kalo ada apa-apa jangan lupa cerita sama gue"

"Akhirnya ada di antara kita yang saling pisah demi masa depan ya, nggak nyangka kita udah dewasa"

"Kalo bosen pulang ya, kita jangan sampe lost contact, bakal kangen banget sama kamu"

Uwuwuwuw


Bahkan gue membuat tulisan buat sahabat-sahabat gue waktu masa-masa awal pelatihan di pekerjaan gue yang sekarang dan sukses bikin gue nangis waktu dibacain sama mentor materi pelatihan gue, Bang Yusran Pare dan sukses bikin gue dikelilingin dan dipeluk sama temen-temen baru gue saat itu. Hahaha. Tulisannya bisa dibaca di sini -- Rindu

Karena ada satu kalimat dari mereka yang juga berhasil bikin gue mewek saat mau berangkat ke Solo.


"Untuk teman yang sedang berada di peraduan, semoga semogamu segera disegerakan, dan setelahnya, jangan lupa pulang"

GIMANA GUE NGGAK NANGIS SAUDARA-SAUDARA.....


Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah 

Bentangan kilometer, untukmu, akan kutempuh 

Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah 

Di pelukanmu, sayang, aku akan pulang 



Kalau lirik di bait ini, gue inget saat meyakinkan mereka-mereka bahwa gue akan sering pulang ke Semarang, gue menjanjikan kalau setiap ada kesempatan gue pasti pulang.

Meyakinkan kalau gue nggak bakal lupa sama mereka, meyakinkan kalau gue nggak akan pernah berubah meski ada di tempat baru dan punya temen-temen baru, sampai kapanpun gue tetap akan menjadi Bulan yang seperti mereka kenal dari awal hingga tahunan persahabatan kita.

Meyakinkan mereka, bahwa gue nggak akan berhenti komunikasi dengan mereka, karena ya cuma sama mereka gue bisa menjadi diri gue sendiri dan mencurahkan semuanya tentang gue.

Meyakinkan mereka, karena kita cuma terpisah jarak dan buat gue jarak bukan masalah untuk tetap menjaga hubungan persahabatan ini sampe selama-lamanya. Karena apa? Ya karena gue sayang. Sesederhana itu.

Sekantong rindu bekalku menemani perjalanan

 Di kejauhan, masihkah aku hiasi benakmu? 

Jika lelah, ingatlah



Lirik bagian ini juga mengingatkan gue saat berangkat ke Solo, terbesit di benak juga kalau bagaimana yang melupakan adalah mereka. 



Hehe


Saat itu juga gue berdoa segala yang terbaik untuk perjalanan hidup gue dan mereka-mereka yang sudah menemani gue beberapa tahun belakangan ini.

Di pelukanmu, sayang, aku akan pulang 

Jariku kan pulang pada genggamanmu 

Bibirku kan pulang pada keningmu 

Tubuhku kan pulang pada dekapanmu

 Sejauh apa pun kita, hatiku di sebelahmu


Ya seperti yang gue bilang di atas, mereka semua ini adalah tempat gue untuk berpulang, nggak peduli ke mana gue pergi dan apapun yang gue lakukan, yang selalu ada untuk gue ya mereka.

Yang selalu ada di pikiran gue ya mereka. Yang gue butuhkan untuk tempat bercerita, bersandar, tertawa, dan menangis, ya mereka. 


Si kampret yang selalu ada buat gue



Ngapain sih nyet.


Yap, kayak di akhir lirik, karena sejauh apapun gue dari mereka, hati ini udah tertinggal di samping mereka semua.

Meski sekarang gue punya temen-temen baru, tapi nggak ada yang bisa membuat gue merasa senyaman seperti saat gue bareng keluarga dan sahabat-sahabat lama gue ini. 

Mereka orang-orang lama yang nggak akan tergantikan sampai kapanpun dan siapapun. Mereka yang selalu berhasil membuat gue kembali lagi dan membuat gue merasa tenang. 

Mereka yang membuat gue bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Mereka yang bisa membuat gue merasa disayangi dan menyayangi yang tulus. Mereka yang terbaik.

Mereka-mereka inilah yang nama dan tampangnya paling sering gue ceritakan di sini dan bahkan gue ceritakan ke temen-temen baru gue. 

Mereka terbaik, sampai kapanpun. Dan gue rasa, sampai saat ini memiliki mereka, gue udah merasa cukup, apalagi yang bisa gue minta kalau udah dapet yang luar biasa kayak gini, kan?

Keluarga dan sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan mendoakan apapun yang gue lakuin. Yang selalu mendengarkan keluh kesah gue. Yang menyandarkan bahunya ketika gue lemah. Yang memaklumi ketika gue bersedih. Yang tidak mengejek gue ketika patah hati. 

Ndusel-ndusel asik sama kakak-kakak akuuuh

Meski mereka adalah orang-orang yang bisa gue sebut rumah, tapi gue sadar, nggak akan selamanya gue bisa menetap bersama mereka.

Suatu saat Mama akan dipanggil Tuhan jika sudah waktunya, entah gue siap apa enggak. Sahabat-sahabat gue suatu saat juga akan memiliki 'rumah'nya sendiri dan hidup bersama.

Gue sadar kalau gue juga butuh satu sosok lagi yang bisa gue sebut 'rumah'. Yap, di usia gue yang sekarang ini, yang gue butuhkan adalah tempat untuk tinggal dan menetap, bukan yang sekadar singgah sejenak.

Mungkin untuk saat ini gue belum menemukannya, mungkin suatu saat nanti. Yang jelas, untuk sekarang gue nggak memusingkan hal itu, terlebih gue juga barusan patah hati, luka masih ninggal dan trauma masih membayangi gue.

Selain itu, gue masih suka terbang ke sana kemari, melakukan banyak perjalanan dan petualangan. Semoga di perjalanan ini, gue bisa menemukan sosok yang bisa membuat gue pulang kepadanya. Yang bisa membuat gue nyaman berada di sisinya. Yang bisa menjadi apapun yang gue butuhkan.

Mungkin nggak sekarang, tapi nanti. Mungkin saat ini gue perlu memperbaiki diri gue sendiri, memantaskan diri untuk menjadi 'rumah' bagi orang yang tepat. Mungkin nanti Tuhan hadirkan di waktu yang tepat, di saat gue udah siap untuk menerima kehadirannya.

Untuk saat ini, gue amat sangat bersyukur dan berterima kasih untuk 'rumah-rumah' yang ada untuk gue. Tempat-tempat yang selalu ada untuk gue pulang. Orang-orang yang pantas untuk gue jaga dan sayangi sampai kapanpun.

Terima kasih teruntuk kalian yang sudah menjadi bagian dari hidup gue....

Natalan di Bandung kala itu, 2014.
Best thing I've ever had


"Sejauh apapun kita, hatiku tertinggal di sebelahmu"

Salam sayang selalu,
Surakarta, 4 Juni 2018
NBRP.




12 komentar:

  1. Asekkk.
    Kakau Fiersa ini yang aku suka celengan rinduu. Tentang LDR. Bagusss hahaha.
    Semangat selalu Bul

    BalasHapus
  2. Duh, Fiersa emang ya...kayaknya dia ngorok aja jatohnya jadi puitis =D

    BalasHapus
  3. asik ya temen curhatnya mamanya,, langsung charge hati pasti

    BalasHapus
  4. Bagiku, setiap 1 lagu yang aku suka, pasti ada satu cerita yng tersirat.
    Oh iya, aku baru judul lagu ino ternyata rumah. Padahal sebelumnya peenah dengar, cuma gak tahu siapa yg nyanyiin dan apa judul nya.
    Cuma skrg sudah tahu, makasih Iron Girl

    BalasHapus
  5. Beneerr...
    Rumah.
    Tempat kita pulang.
    Tempat kita kembali dan menerima kita apa adanya.

    Lagunya mendayu-dayu...
    Bikin merinding.
    Apalagi petikan gitarnya.

    BalasHapus
  6. Kita memang butuh Rumah untuk pulang dan tinggal. Jd inget dulu pernah juga mewek2 sama temen kerja karena aku pindah. Ya gitu deh kalau kita udah sayang sama mereka

    BalasHapus
  7. Y ampun jadi kepo lagunya fiersa. Kemarin bukunya launching ya, ternyata ada lagunya juga. Itu lagu rumah bikin aku Inget suami yang di kota lain

    BalasHapus
  8. Ada orang-orang yang memang gak tergantikan perannya untuk kita, ya. Dan mereka yang menjadi "rumah" kita meskipun banyak kekurangan di sana-sini tapi tak akan tergantikan dengan "rumah mewah" sekalipun :)

    BalasHapus
  9. Wah sy kudet banget. Baru dengar nama penyanyinya...
    Tp jd penasaran nih

    BalasHapus
  10. Aku sering sih muterin di radio. Emang kalau liat tren sekarang. Lirik lagu lebih simpel dan lebih sesuai dengan cerita hidup sehari hari. Musik lebih easy listening dan mudah ditirukan dan diingat

    BalasHapus
  11. DUh, posting ini membuatku meleleh. berbicara tentang lagu dan arti keluarga disertai cerita cinta keluarga. Senang sekali membacanya. Bulan sangat beruntung memiliki keluarga dan rumah yang penuh cinta. Dan terlebih, menghargai kelebihan itu. Sebagai ibu, aku pasti bangga banget jika anakku merasakannya

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik, maka gue juga akan menanggapinya dengan baik. Terima kasih sudah membaca postingan gue dan blogwalking di sini. Terima kasih juga sudah berkomentar. Have a great day, guys! Godblessya!