Selasa, 28 April 2015

Lagi

Teringat 4 pekan yang lalu
Di tanggal 28 yang sama
Di waktu yang sama
Terdiam dan termenung
Mata yang nanar dan pelipis berkedut karena lelah berpikir
Menghembuskan napas panjang lebih banyak dari biasanya
Hati yang tak tenang dan resah
Semua dalam kesendirian
Rasa itu...
Keraguan, kegusaran, kebimbangan
Menyelimuti sanubari
Pekat..
Sedih..
Kacau..
Tak ada arah..

Sekarang..
Di tanggal 28 yang sama
Detik ini, saat ini juga
Aku memasuki fase yang sama
Lagi....



NBRP
-28 April 2015-

Rabu, 22 April 2015

Mengejar Sunrise di Bukit Sikunir




Pada tanggal 18 April 2015 yang lalu, gue bersama beberapa sahabat gue berkesempatan untuk main ke Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Karena udah terlalu lelah dan penat dihujani tugas-tugas yang banyak ngalahin banyaknya fans One Direction *ok, ini lebay*, jadilah gue bersama sahabat-sahabat gue merencanakan untuk menghabiskan waktu libur untuk main ke alam terbuka.

Sabtu, 04 April 2015

Takdir Kita (Part 3)

Baca Takdir Kita Part1&Part2

Kak Sarah mendatangiku lagi setelah aku membuang foto kenanganku bersama Lucky. Ia memasuki kamarku dengan membawa sepiring makan siang untukku.

"Makan dulu, nanti mati lho"  ucap Kak Sarah tanpa dosa dan terkekeh-kekeh. Nampaknya dia berusaha untuk menghiburku.

Aku hanya membalasnya dengan hembusan nafas yang panjang dan tatapan nanar ke arah kakakku satu-satunya ini. Kak Sarah yang melihat kelakuanku pun langsung meletakkan piring makan siangku di meja belajar lalu duduk di sampingku.

"Sebenarnya, apa yang membuat kamu sedih, dek?"

Aku terdiam menyerap pertanyaan dari kakakku ini.

"Aku masih sayang Lucky, kak. Aku masih mencintai dia. Begitu juga dengan perasaannya Lucky kepadaku. Aku yakin dia juga masih menyimpan perasaan itu untukku"

"Seyakin itukah kamu, dek?"

Aku kembali terdiam mendengar pertanyaan dari Kak Sarah.

"Eng...i...iya, kak..."

"Coba deh, kamu inget-inget lagi kenapa hubungan kalian bisa putus? Maaf ya, bukannya kakak membuka luka lamamu, dek"

Putus? Luka lama? Ah, kejadian 3 tahun lalu yang membuat aku dan Lucky harus berpisah. Dadaku berdenyut dan terasa nyeri ketika aku mencoba mengingat apa yang terjadi 3 tahun yang lalu itu. Sakit.

"Aku...menangkap basah Lucky berkali-kali mendekati banyak perempuan, kak. Salah satunya Mika"

"Dan kamu langsung memutuskan hubungan kalian, kan?"

Aku hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan dari Kak Sarah. Aku berupaya untuk menahan rasa sakit di dada. Tak lagi hanya nyeri, tapi juga perih dan pilu. Rasa yang sama seperti 3 tahun yang lalu.

"Lalu sekarang coba kamu lihat bagaimana endingnya Lucky dan Mika, dek? Menikah sih, tapi karena keterpaksaan, kan?"

Sekali lagi aku menangguk pelan, aku belum paham ke mana arah pembicaraan Kak Sarah ini.

"Dari 2 kejadian itu, apa yang bisa kamu petik, dek?"

"Eng...Lucky...Lucky...."

"Iya, Lucky bukan laki-laki baik, dek. Dia bejat."

Deg! Kak Sarah seakan membaca pikiranku. Ya, aku tahu Lucky bukan laki-laki baik. Aku memang sudah tahu Lucky itu seperti apa, sudah sangat tahu.

"Kamu seharusnya bersyukur dek, bisa putus dengan Lucky. Tuhan masih sayang sama kamu dengan mengizinkan hubungan kalian berakhir 3 tahun yang lalu. Kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada Lucky."

"Mungkin memang kamu cinta, memang kamu sayang. Tapi lihat apa yang dilakukan Lucky kepadamu? Dia mempermainkan kamu, dia tidak setia, dia terlalu sering menyakiti perasaanmu. Untuk apa kamu mempertahankan dia? Bagaimana kalau kamu sekarang ini di posisinya Mika?"

Aku terhenyak mendengar nasihat dari Kak Sarah. Sebenarnya aku menyadari hal itu semua, tapi aku tidak acuhkan, aku menyangkal semua pemikiranku selama ini atas dasar cinta. Ya, semua aku lakukan atas dasar cinta. Tetapi, mendengar semua nasihat Kak Sarah, pipiku serasa ditampar berulang kali. Aku terlalu bodoh.

"Sudah 3 tahun, dek. Sudah cukuplah kamu mengasihani dirimu sendiri. Sekarang buka hatimu lagi untuk laki-laki lain yang pantas untuk menerima cintamu"

"Sekarang sudah saatnya kamu benar-benar ikhlas memaafkan Lucky dan memaafkan dirimu sendiri. Maafkan semua kelakuan bejat Lucky terhadapmu. Dan maafkan dirimu sendiri karena terlalu larut dalam kesedihan tanpa memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. Maafkan dan ikhlaskan semuanya. Move on, dek, kamu pasti bisa, tinggal bagaimana keputusanmu. Kalo kakak udah ngomong sampe berbusa gini tapi kamu belum ambil keputusan, ya percuma aja, dek. Omongan kakak hanya angin lalu"

"Ambil keputusan yang tepat ya. Nggak haus apa sedih dan galau mulu? Hehehe. Udah segitu aja pesen dari kakak ya. Sekarang kamu makan dulu, gih. Kakak mau keluar dulu sebentar."

"Iya, kak. Makasih buat nasihatnya. Kakakku owsom!"

"Haha ya dong. Eh satu lagi dek pesen kakak"

"Apa, kak?"

"Jatuh cinta boleh, bodoh jangan"  kata Kak Sarah sambil tersenyum lalu meninggalkan aku sendirian di kamar. Aku pun ikut tersenyum mendengar perkataan dari kakakku itu.

Ya, semua nasihat dari Kak Sarah sore ini memang benar-benar menamparku. Selama ini aku memang bodoh, aku lemah, aku tak pernah ambil keputusan yang tepat. Dan aku rasa sekarang inilah waktunya aku benar-benar menghapus Lucky dari kehidupanku. Ingin aku tinggalkan Lucky di belakang, di masa laluku dan tak pernah menengoknya lagi. Cukup sudah 3 tahun aku masih menyimpan perasaan ini untuknya.

Aku bergegas mengambil HP-ku yang terletak di tempat tidur. Aku ingin menghubungi Lucky untuk yang terakhir kalinya. Secepat kilat jari lentikku menari-nari di atas layar HP.

To: Lucky
Lucky, aku mau minta maaf karena tadi sudah menamparmu. Mungkin aku terlalu kecewa, tapi semuanya udah terjadi. Takdir kita memang seperti ini. Selamat ya untuk pernikahanmu dengan Mika nantinya.

To: Rahza
Tidak apa-apa, Ra. Semua memang salahku. Aku terlalu bodoh sudah menyia-nyiakan perempuan cantik seperti kamu. Ya inilah karma yang harus aku terima. Terima kasih ya ucapannya. Besok aku kirim undangan pernikahanku ke rumahmu ya? Mau datang kan?

To: Lucky
Sudah, tak perlu ada yang disesali, lupakan semuanya, buka lembaran baru. Aku usahakan datang ya, Ky.

To: Rahza
Semoga kamu dapat penggantiku yang lebih baik ya, Ra. Oke, aku tunggu kehadiranmu ya, terima kasih. Have a nice day, Ra"

Aku tidak membalas pesan terakhir dari Lucky, aku kembali bimbang dengan undangan ke pernikahannya Lucky. Aku belum yakin dengan jawaban 'Aku usahakan datang ya, Ky'. Aku belum yakin, sudah kuatkah aku melihat Lucky berdampingan dengan wanita lain. Sudah siapkah aku datang ke pernikahan orang yang pernah aku cintai? Sudah siapkah aku untuk move on? Sudah siapkah aku melepaskan Lucky selama-lamanya?

Dan keraguan itu datang menelusup ke dalam hatiku lagi......




*Bersambung ke Part 4*