Kamis, 29 Agustus 2013

Minta Like-nya ea, Kak!

Whuzaa, akhirnya gue bisa ngeblog lagi setelah gue lagi-lagi dibikin (sok) sibuk sama kegiatan kampus. Yah, beberapa minggu kemaren gue disibukkin dengan kegiatan OSPEK di kampus gue. Iya, tampang buluk gini jadi senior yang ngOSPEK-in adek-adek angkatan gue, tapi emang udah bukan hal yang baru sih buat gue ikut kegiatan kayak gini, karena udah dari SMP-SMA gue ga pernah absen dari yang namanya jadi panitia MOS/OSPEK. Eheheh *biasalah* *pengen eksis* *pengen dikenal adek-adek loetjoe*. 
Ok, kembali ke topik. Untuk postingan kali ini, gue pengen sharing tentang pengalaman absurd gue waktu maenan Facebook. Mungkin udah pada bisa nebak dari judul postingan gue ya? tapi biarlah gue meneceritakan ke-apesan gue ketika gue lagi asyik maenan Facebook. 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Dirgahayu Republik Indonesia ke- 68!

Happy Birthday Indonesia, loveya! :*

" 17 Agustus tahun empat limaaa, itulah hari kemerdekaan kitaaaa. Hari merdekaaa, nusaa dan bangsaaa. Hari lahirnya bangsa Indonesia, mer-de-kaaaa. Sekali merdeka tetap merdekaaaa!"


Yeah, itu lirik lagu yang kita dengerin bahkan nyanyiin bareng-bareng waktu upacara bendera memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia tadi pagi *yang ngerasa ikut upacara lhoo yaa*. Nyanyiin lagu itu sambil ngantuk-ngantuk dan sedikit lupa liriknya lagunya sambil ngelirik nasi kotak atau tumpeng yang udah disediain panitia buat dibagiin pada peserta upacara pagi itu. Iya, hari ini tepat 17 Agustus ke-68 kita merdeka, jadi ga heran deh kalo pagi ini seluruh rakyat bangsa Indonesia pada ngadain upacara bendera untuk memperingati kemerdekaan kita dari penjajah-penjajah jahat nan keji *dih bahasanya*.

Jumat, 02 Agustus 2013

Selamat Ulang Tahun, Papa..

Hai Pa, apa kabarnya di sana? baik-baik aja kan? sama, aku di dunia juga baik-baik aja keadaannya. Ga kerasa ya hampir 6 tahun lamanya kepergianmu, dan ga kerasa juga ini tanggal 2 Agustus yang ke-5 yang kita lewatkan tanpa kebersamaan dan canda tawa yang hangat di rumah bersama keluarga. Siapa sangka sih, tanggal 2 Agustus 2007 itu bakal jadi hari bahagiamu yang terakhir, yang Tuhan izinkan untuk kita rayakan bareng-bareng di dunia? dan siapa sangka, 2 bulan setelah hari bahagiamu yang terakhir itu Tuhan berkehendak memanggil Papa ke sisi-Nya?. 
Semua terjadi begitu aja dan sangat cepat. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan dalam hidupku sehingga Tuhan mempercayai aku untuk hidup tanpamu, Pa. Awalnya memang berat, bahkan awalnya aku marah, pada semuanya, pada keadaan, pada keluarga, bahkan pada Tuhan. Aku ga bisa terima kepergianmu, terlalu berat, terlalu cepat dan terlalu menyakitkan buatku. Sampai pada akhirnya aku memahami apa yang mau Tuhan kerjakan dalam hidupku lewat kepergianmu, mungkin Tuhan sudah merasa ini sudah waktu yang tepat untuk aku bisa menghadapi dunia yang ternyata keras, menghadapi hidup yang ternyata tak semudah yang aku bayangkan selama ini tanpa sosok dan cinta kasih Papa di sisiku. Ya, tak akan lagi aku bisa bermanja-manja padamu, tak akan ada lagi rengekkan-rengekkanku yang menyebalkan menuntut untuk dituruti Papa, tak akan ada lagi kenyamanan duniawi yang selalu kau berikan untukku. Aku harus berjuang sendiri menjalani hidup, aku harus mandiri dan menjadi sosok yang lebih kuat, lebih tegar, lebih dewasa, menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi orang lain. Meskipun tanpa kehadiranmu...