Senin, 21 Juli 2014

Taman Sari Yogyakarta


Taman Sari Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedathon sampai tenggara komples Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.


Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, berserta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari punguta pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun beberapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon, salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis. 

Taman Sari tidak hanya sebuah Taman yang menjadi tempat rekreasi keluarga kerajaan pada zaman itu, namun juga memiliki berbagai macam fungsi di antaranya juga digunakan sebagai Camouflage Area terhadap para musuhnya dan juga menjadi suatu sistem benteng pertahanan, selain itu juga digunakan sebagai tempat untuk meditasi bagi para Raja, tempat untuk membuat batik yang dilakukan oleh selir-selir Raja serta putri-putri Raja, tempat untuk berlatih kemiliteran para tentara kerajaan dan masih banyak lagi.




Terdapat beberapa elemen yang mempengaruhi arsitektur dari bangunan kompleks Taman Sari ini, di antaranya adalah pengaruh dari Hindu dan Budha, Jawa dan Islam, Cina, Portugis, dan gaya Eropa. Dapat dilihat dari beberapa bagian bangunan ini. Taman Sari memiliki dua buah pintu gerbang utama, yaitu sebuah Gapuro Agung (yang terdapat di bagian Barat) dan Gapuro Panggung (yang terdapat di bagian Timur, yang saat ini digunakan sebagai pintu masuk utama menuju lokasi kompleks Taman Sari). Bentuk dari pintu gerbang atau 'Gapuro'nya memang sangatlah indah dan merupakan gaya asli dari Jawa, pada detail dari Gapuro ini adalah motif asli Jawa seperti stilasi dari sulur-sulur tanaman, burung, ekor, dan sayap burung garuda.

 Secara singkat, bagian-bagian Taman Sari terdiri dari : 
  • Bagian Sakral : ditunjukan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini terdiri dari sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.   
  • Bagian Kolam Pemandian : Bagian ini merupakan bagian yang digunakan untuk bersenang-senang oleh Sultan dan keluarganya. Bagian ini terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan oleh bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar di dalamnya. 
  • Bagian Pulau Kenanga : Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gumuling, dan lorong-lorong bawah tanah. 
Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti adalah sebuah bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat sekaligus sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya yang akan kelihatan apabila kanal air terbuka dan air menggenangi kawasan Pulau Kenanga ini. Disebutkan bahwa jika dilihat dari atas, bangunan itu seolah-olah sebuah bunga teratai di tengah kolam yang sangat besar. Begitu masuk tempat ini, wisatawan bisa menyaksikan kolam besar yang terpisah menjadi dua bagian dengan air yang begitu jernih. Selain kolam utama yang terbagi menjadi dua bagian tersebut, setelah masyk melewati bagian bawah menara dua lantai yang disediakan sebagai tempat Sultan menyaksikan para istrinya yang sedang mandi, ada sebuah kolam yang ukurannya lebih kecil. 


 
KEISTIMEWAAN TAMAN SARI JOGJAKARTA
Bila wisatawan menaiki menara Taman Sari, kenikmatan duduk bersantai di atas sambil mengamati kedua kolam di bagian utara dan selatan menara tersebut akan terasa. Angin berhembus semilir dari sela-sela jendela yang dipasangi jeruji-jeruji kayu yang masih asli, belum pernah diganti sejak pertama kali dibuat. Selain menikmati pemandangan kolam, tersebut wisatawan juga bisa menyaksikan rumah-rumah penduduk yang berada di sekitarnya yang konon dahulu adalah kebun-kebun buah. 
Puas dengan pemandangan dari atas menara, wisatawan dapat kembali turun untuk menjelajahi bagian lain dari Taman Sari. Di bagian ini, ada dapur dengan konstruksi kuno, serta masjid bawah tanah yang cukup unik. Masjid bawah tanah ini terdiri atas dua lantai berbentuk bulat dengan rongga-rongga jendela di bagian luarnya. Ada sebuah kolam kecil berbentuk bulat di tengah masjid serta tangga yang melintang di atasnya sehingga cukup anggun serta memiliki nilai citaras seni yang tinggi. Selain itu, ada juga terowongan di mana ada salah satu bagian di sana yang dipercaya oleh masyarakat sebagai jalan pintas Sultan menuju laut selatan. Di sisi utara dari terowongan ini ada sebuah bangunan kuno yang masih merupakan bagian dari Taman Sari juga yang berbentuk seperti bangunan bertingkat dengan tempat datar di atasnya. Dari atas sini wisatawan bisa menyaksikan keindahan sekitar karena memang bangunan ini cukup tinggi. Nuansa itulah yang setidaknya bisa membuat wisatawan untuk sejenak merasakan rasanya menjadi Sultan.


 

LOKASI 
Taman Sari terletak di lingkungan Keraton Yogyakarta, tepatnya di arah barat-selatan Keraton atau di sebelah selatan Pasar Ngasem. Secara administratif, Taman Sari terletak di Kampung Taman, Kecamatan Keraton Kota Yogyakarta
 
AKSES 
Dari Keraton Yogyakarta, perjalanan ke Taman Sari bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit, atau dengan mobil selama 5 menit. Becak juga banyak tersedia. Terdapat banyak akses untuk masuk ke Taman Sari melalui jalan kecil di Kampung Taman, tetapi jika pengunjung membawa mobil akan lebih nyaman masuk Taman Sari melalui gerbang timur, karena di sini terdapat tempat parkir yang cukup luas.
 
AKOMODASI & FASILITAS 
Bagi pengunjung yang ingin mengetahui makna, kegunaan tiap-tiap bangunan dan sejarah Taman Sari, disediakan banyak pemandu wisata yang siap memberikan penjelasan. Tarif bagi pemandu wisata bergantung pada kesepakatan, berkisar antara Rp.25.000,- sampai Rp.50.000,-   


HARGA TIKET & RESERVASI 
Tiket masuk ke Taman Sari sebesar Rp.3.000,- dan jika wisatawan membawa kamera, maka dikenakan biaya pengambilan gambar sebesar Rp.1.000,-
Apabila pengunjung ingin melakukan reservasi terlebih dahulu untuk berwisata ke Taman Sari Yogyakarta atau ingin mendapatkan info yang lebih banyak lagi bisa menghubungi : 

Natalia Bulan Retno Palupi 
e-mail : tirza.natalia.bulan@gmail.com
Atau bisa melalui komentar di blog ini. Terima kasih.    







Nama : Natalia Bulan Retno Palupi 
NIM : 12.51.0798
Manajemen Pariwisata, Semester 4.  

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik, maka gue juga akan menanggapinya dengan baik. Terima kasih sudah membaca postingan gue dan blogwalking di sini. Terima kasih juga sudah berkomentar. Have a great day, guys! Godblessya!