Kamis, 17 November 2016

Anggap Saja Review: The Doll

kapanlagi.com

Setelah melawan segala kesoksibukan sehari-hari, akhirnya gue ada kesempatan buat nonton film yang diperanin sama idola sepanjang masa gue, (bukan, kali ini gue nggak bahas Tulus di blog gue) Denny Sumargo, yaitu ‘The Doll’, ini film kesekian kalinya dia yang bertemakan horror. Sejujurnya gue cukup bosan dia dapet genre film dan partner akting yang sama terus. Tapi demi melihat perkembangan dia di dunia akting *tsaelah, emang lau sokap, Bul?*, gue rela men-skip nggak nonton ‘Doctor Strange’ sama ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’dulu. Kalo nonton tiga-tiganya langsung, yang ada gue dua minggu ke depan bakal makan nasi aking mulu karena mendadak bokek.

Walaupun gue fans garis kerasnya Koko Denny Sumargo, review-an “The Doll” ini, gue tetap memposisikan diri sendiri sebagai penikmat film kok, bukan review ala-ala fans yang sekadar memuji biar idolanya seneng. Review tetap akan objektif, seperti review-review film yang udah gue tulis di sini sebelumnya. Untuk filmnya DenSu kali ini, gue enggak berekspektasi apa-apa, sih. Tapi ada hasrat juga ingin membuktikan kalo katanya “The Doll” ini film horor terbaik tahun ini, pengin tahu, beneran apa enggak gitu ya, kan. Setelah kelar nonton film hasilnya gimana? Yuk deh, langsung gue review!



movie.co.id


Judul: The Doll
Tanggal Rilis: 27 Oktober 2016  
Pemain: Denny Sumargo (Daniel), Shandy Aulia (Anya), Sara Wijayanto (Bu Sarah), Vitta Mariana (Niken)
Sutradara: Rocky Soraya
Penulis: Riheam Junianti
Genre: Horor, Misteri, Urban legend
Durasi:  Kira-kira 2 jam deh

Sinopsis:

Film ini mengisahkan cerita sepasang suami yaitu Anya dan Daniel yang baru pindah ke rumah barunya di daerah Bandung untuk menjalani kehidupan yang baru dan lebih baik dari sebelumnya karena Daniel mendapatkan promosi di tempatnya dia bekerja. Awalnya kehidupan baru mereka nampak bahagia dan baik-baik saja sampai pada akhirnya ada kehidupan lain yang mengganggu kebahagiaan mereka. Daniel yang bekerja sebagai asisten kontraktor harus mengambil sebuah keputusan yang nantinya memengaruhi kehidupan barunya yang bahagia itu. Ia harus menebang pohon di daerah Jalan Siliwangi yang dipercayai sebagai tempat penunggu arwah anak kecil yang tidak tenang karena meninggal secara mengenaskan pada saat rumahnya dirampok dan dibantai oleh para perampok itu. Pohon itu ditandai dengan adanya boneka yang sengaja diletakkan di sana menandakan bahwa pohon itu tempat tinggal dari anak kecil yang arwahnya belum tenang. Dan tentunya, boneka itu adalah boneka kesayangan si arwah anak kecil ini selama ia hidup di dunia.


Mereka dulu hidup susah~ ulululu | beritatagar.id


Karena Daniel tidak percaya dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia lain, ia dengan tenang mengambil keputusan untuk menebang pohon tersebut meskipun anak buahnya menentangnya dengan keras. Hasilnya, setelah pohon itu ditebang, boneka itu tiba-tiba ada di dalam mobil Daniel ketika ia pulang ke rumah. Anya yang bekerja sebagai pengerajin boneka pun langsung menyukai boneka tersebut dan memohon Daniel untuk membersihkan dan menyimpan boneka tersebut. Daniel pun mengiyakan permintaan Anya, istri kesayangannya itu. Malam itu juga, boneka itu dibersihkan Anya dan diletakkan di tempatnya mengerjakan boneka-boneka buatannya. Mereka tidak menyadari bahwa kehadiran boneka tersebut adalah awal dari gangguan-gangguan gaib yang setiap malam harus mereka rasakan. Ea!

Tetangga Anya yang bernama Niken pun juga mengetahui hal tersebut, ia menjelaskan bahwa boneka tersebut adalah milik anak kecil yang keluarganya dibantai oleh perampok, nama anak kecil itu Uci, sedangkan nama bonekanya Ghawiyah. Niken sudah memeringatkan Anya untuk segera membuang boneka tersebut, namun karena Anya tidak percaya hal-hal gaib seperti Daniel suaminya, ia enggan untuk membuang boneka tersebut. Sampai pada akhirnya banyak gangguan gaib yang meyakinkan Anya bahwa setiap peringatan dari Niken itu benar. Setiap hari gangguan makin parah dan mengarah pada boneka tersebut, sampai pada akhirnya Uci, si anak kecil yang arwahnya tidak tenang itu menampakkan dirinya di hadapan Anya langsung. Karena gangguan semakin parah, Niken pun mengundang Ibu Sarah (semacam Lorraine Warren kalo di film The Conjuring) yang sudah punya pengalaman menghadapi dan mengusir arwah Uci ini.

Ghawiyaaahh~~ | youtube.com


Namun pertempuran Bu Sarah dengan Uci kali ini beda daripada yang sebelumnya. Untuk yang kali ini, arwah Uci semakin jahat dan entah kenapa penuh dengan amarah dan dendam. Bu Sarah pun semakin kesulitan untuk menghadapi arwah Uci ini. Arwah Uci ini semakin menjadi-jadi ketika dia berhasil merasuki tubuh lemah Anya, ia dengan brutal membantai tubuh Daniel dengan tusukan-tusukan pisau, menghajar Daniel sampai ia tidak bisa bergerak lagi sama sekali. Parah emang si Uci ini, apa salah Daniel ini? Ganteng-ganteng gitu dihabisi sampe berdarah-darah. Apa yang melatar belakangi Uci mengganggu kehidupan Anya dan Daniel  yang lagi bahagia-bahagianya? Apakah karena Daniel yang sudah menebang tempat tinggalnya? Atau ada faktor lainnya? Apakah Bu Sarah berhasil mengusir arwah Uci yang kalap menghajar Koko Glodok kesayangan gue? Apakah Anya dan Daniel berhasil melewati gangguan-gangguan dari Uci si arwah penasaran dan kembali hidup berbahagia? Mari temukan jawabannya dengan nonton film ini, gue aja nonton lho……#yhateruskenapa.

***

Dan film ini menurut gue….…..biasa aja. Hahahaha. Menurut gue yang sok tahu udah sering banget nonton film horor, “The Doll” ini nggak ada serem-seremnya sama sekali, gengs. Paling cuma ngaget-ngagetin doang seperti ciri khasnya film horor ala Indonesia gitu lah, pasti tahu yang gue maksud kayak gimana, terutama adegan mati lampu-hujan deres-setan muncul yang pasti ada di setiap film horor. Untunglah gue dari awal nonton emang nggak berekspektasi apa-apa, jadinya nggak kecewa-kecewa banget begitu filmnya udah selesai. Kan emang tujuan awalnya nonton film ini pengin lihat perkembangan aktingnya Koko Denny yang semakin kebanjiran tawaran main film itu *duileeee**lagak lu, Buullll*. Menurut gue, “The Doll” ini film yang cukup bagus, tapi tidak lebih bagus dari film-film horor yang “Hitmaker” buat sebelum “The Doll” ini. Selain pemeran utamanya yang masih sama seperti film-film yang sebelumnya, sensasi yang gue rasakan ya sama aja kayak yang sebelumnya, “The Doll” cuma beda cerita doang udah.


Main film selain horor dong~ | wowkeren.com


Menurut gue, alur cerita dan konfliknya terlalu sederhana, bahkan intro ceritanya agak kepanjangan di awal. Karena katanya cerita “The Doll” ini diambil dari cerita urband legend-nya Kota Bandung, gue awal nonton mengiranya ini bakal nyeritain cerita nyata di balik cerita urband legend boneka penunggu pohon di Jalan Siliwangi tersebut kayak “The Conjuring 1 & 2” yang nyeritain kisah nyata pengusiran iblis yang dilakukan pasangan Warren di tahun 70-an itu, atau kayak “The Excorcist” atau “The Exorcism of Emily Rose” (kalo ini najis banget seremnya), eh ternyata enggak. Setelah nonton dan riset-riset tentang film ini, ternyata “The Doll” hanya terinspirasi dari urband legend boneka penunggu pohon tersebut lalu mengembangkan ceritanya sendiri. Sayang banget pengembangan ceritanya menurut gue kurang greget sehingga menyebabkan film ini kurang serem, padahal gue pengin sesuatu yang lebih, pengin sesuatu yang bisa bikin gue tegang nonton film ini, padahal urban legend-nya juga udah bagus banget dan cukup bikin penasaran penonton lho. Reaksi gue waktu mencerna konflik film ini tuh…”Oh, gitu doang?” #ditabokberjamaah.

Ini film horor, tapi nggak bikin gue ketakutan atau tegang sama sekali. Bikin parno pun enggak, gue selaw banget waktu nonton ini di bioskop, nggak ada aktivitas nutupin muka atau jejeritan gara-gara setan yang nongol di film bahkan dari audionya sekalipun. Gue anteng banget sepanjang film, bahkan sempet ngantuk dan menguap beberapa kali di dalem studio. Beda kayak waktu nonton “The Conjuring 2”, yang tegangnya konsisten dari awal sampe akhir film, yang intensitas seremnya bikin kita nggak boleh nafas barang sejenak aja, baca aja review-annya di sini. Gue merasanya malah “The Doll” ini kayak film drama-thriller dibandingkan film horor. Karena menurut gue, film horor yang sukses itu, film yang berhasil bikin kamu parno dan kebayang-bayang setelah menontonnya, semacam mengacak-ngacak kejiwaanmu gitulah. Orang gue nonton “The Conjuring 2” sama “Lights Out” aja 3 hari baru berani ngapa-ngapain sendirian. Valak dan listrik mati cukup berhasil menghantui hari-hari gue saat itu. Heu~

Hmm....| lucudanunik.com

Untungnya, film ini tertolong dengan twist ending-nya yang cukup berhasil bikin gue ber-“ooohhh ternyata gitu”-ria setelah cerita film mencapai akhir dan mendapatkan benang merah dari cerita film ini, walaupun nantinya juga bakal bikin penonton bosan dan bisa menebak kalo “Hitmaker” terus-terusan mengandalkan plot twist untuk setiap filmnya. Selain itu, gue juga beberapa efek yang nggak lebay tapi cukup bagus di dalam film ini, ditambah dengan make up berdarah-darah yang total banget, dan moral cerita yang disuguhkan film ini juga ngena banget sebenernya. Dari “The Doll”, gue belajar, kalo kamu sayang banget sama pasanganmu, you will do anything for her/his happiness. Gue belajar juga, kalau mau keluargamu bahagia, jangan pernah merusak kebahagiaan orang lain juga dan, bahagia itu juga tidak hanya datang dari materi berlimpah aja, asal saling menyayangi, menemani berjuang, memahami itu kayaknya udah cukup.

Untuk masalah aktingnya, di “The Doll” semuanya udah cukup bagus sih, cuma agak mengganggu pas para figuran yang berperan jadi masyarakat sekitar itu, yawlah itu keliatan banget men kalo akting doang, keliatan banget terlalu dibuat-buat, nggak natural, eim. Untuk aktingnya Shandy Aulia, masih konsisten seperti film-film dia yang sebelumnya, sedangkan Denny Sumargo yang mendapat perhatian lebih dari gue….*ehm* ngerasanya, udah bagus juga, udah mengalami perkembangan pun iya. Tapi masih ada beberapa aktingnya yang kaku dan paling bikin gue kesel waktu adegan dia bobok unyu sama Shandy Aulianya itu, kenapa kaku banget ya Tuhan, itu di sana mereka suami istri, kenapa kayak takut-takut banget ngeloni istri kesayangannya. Gemes gue waktu adegan itu, romantisnya Koko Denny juga kaku dan nggak luwes kalo menurut gue, apakah itu mungkin efek dia jomlo? *dikepruk* *pake cinta* *karepmu, Bul*.  Eits, ditambah, entah kenapa di “The Doll” ini, gue masih merasa melihat sosok seorang Denny Sumargonya, bukan Daniel. Apa karena Daniel sama lovable-nya kayak Koko Denny? Ya entahlah, namanya juga review sok tahu ala-ala gue ya, kan, tapi ada adegan dia paling favorit itu ya pas yang berdarah-darah itu, total banget deh, ah. Suka!

Adegan favorit! hahaha | lucudanunik.com


Sini bang, adek lap-in darahnya~ | wowkeren.com


So far, “The Doll” ini film yang cukup menghibur sih. Lumayan seru juga kok ditonton buat yang nggak terlalu suka film horor tapi penasaran sama ceritanya. Tapi “The Doll” bukan film terbaiknya Koko Denny Sumargo, hufht. Masih ada “MTMA The Movie” sama “Kartini”. Semoga 2 filmnya Koko Denny yang selanjutnya itu jauh lebih bagus dibandingin “The Doll” ini. Semoga ke depannya Koko Denny nggak dapet film ber-genre horor mulu, ya. Gue kadang pengin deh ngeliat dia main film action atau film yang drama yang bener-bener based on true story. Semoga rezekinya semakin bagus dan karya-karyanya semakin meningkat dan berkembang. Ada amin saudara-saudara?

Jadi, sekiranya begitulah review “The Doll” ala-ala gue. Film ini masih asyik ditonton terlepas dari review-an gue ini. Toh, ini masalah selera dan penilaian pribadi kan. Siapa tahu buat orang lain “The Doll” ini film yang serem banget, tapi enggak buat gue. Hehehe. Jangan lupa tonton terus film Indonesia, ya. Supaya semakin terus berkembang baik ke depannya. Kalo bukan kita yang bantu mengembangkan, siapa lagi dong?

Sip ye kata-kata gue? Yaudah gue cukupkan postingan gue di sini. Ada yang sudah nonton “The Doll” atau ada yang penasaran sama filmnya? Sharing ya di comment box gue!

Thank you for reading, guys! And Godblessya all!


Dapet salam dari Uci, noh~ | google.com


5 komentar:

  1. Pernha liat thrillernya di kereta sereeeeeem pisaaan euy

    BalasHapus
  2. Hahaha keputusan untuk tidak nonton rupanya tepat :D Sudah kuduga ceritanya biasa aja. 'Paling ya diteror sama boneka' agak mainstream....

    BalasHapus
  3. wahh info bagus..
    mantap tulisannya...

    tinggalin jejak di :D

    kunjungi juga: https://idealimka.blogspot.co.id/

    BalasHapus
  4. biasanya film horor emang ga terlalu serem, cuma suaranya aja yang ngagetin...

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik, maka gue juga akan menanggapinya dengan baik. Terima kasih sudah membaca postingan gue dan blogwalking di sini. Terima kasih juga sudah berkomentar. Have a great day, guys! Godblessya!