Rabu, 16 September 2015

#PojokWBIdol Dia

Hubungan gue dengan Tuhan itu kayak hubungan persahabatan, kadang bisa deket banget, kadang ngambek-ngambekan (dan jelas di sini yang banyak ngambeknya itu gue), kadang bisa jauh-jauhan, diem-dieman, dateng kalo perlu doang, tapi tetep ya, yang namanya sahabat, sejauh apapun jarak kita, kita tetep saling membutuhkan. Begitulah persahabatan gue dengan Tuhan.


Gue tumbuh besar di keluarga Katholik dan Almarhum Papa yang seorang mantan frater, tidak membuat keluarga gue menjadi keluarga yang relijius. Gue justru mengenal Tuhan gue lebih dan lebih lagi ketika gue bersekolah di SMP yayasan Kristen dan ketika Papa gue berpulang pada-Nya. Proses gue mengenal Tuhan itu bener-bener indah dan banyak pelajaran berharga, begitu gue semakin mengenal Dia itu tidak membuat hidup gue seketika menjadi mulus, semakin enak, lancar jaya tanpa adanya kerikil-kerikil kehidupan yang mengganggu. Begitu gue semakin mengenal Tuhan, hidup gue bener-bener ditempa, diuji sana-sini, dan ujian yang paling akrab sama gue itu namanya kegagalan, akrab banget sampe pengin gue pacarin. #eh.

Yap, kegagalan gue yang paling sering gue alami itu kegagalan di pendidikan. Dari SMP sampe kuliah sekarang ini, nggak pernah gue mendapatkan sekolah yang bener-bener gue mau. Gue selalu gagal mencoba ujian masuk sekolah yang gue pengin. Sampe-sampe gue merasa menjadi manusia yang paling bodoh karena gue selalu gagal masuk di sekolah yang gue pengin, yang notabene adalah sekolah-sekolah favorit di kota gue. Tapi apa? Di balik kegagalan itu semua, Tuhan izinkan gue untuk menjadi orang yang lebih berguna lagi, Tuhan izinkan gue mengalami pengalaman-pengalaman yang luar biasa. Di SMP, gue sempat menjadi Ketua OSIS, bingung? Sama, gue juga bingung kenapa orang kayak gue bisa jadi Ketua OSIS di sekolah. Selain itu, gue menjadi salah satu anggota tim basket dan berhasil mengangkat nama tim basket sekolah dari underdog menjadi disegani sekolah lain, dan yang paling terpenting, di SMP inilah yang membuat gue semakin dan semakin mengenal Tuhan gue, gue belajar baca Alkitab, setiap Rabu gue mendapatkan firman Tuhan karena setiap hari Rabu pasti ada kebaktian mingguan, SMP gue ini emang disiplin banget kalo masalah pendidikan agama. Mungkin hal rohani kayak gini nggak bakal gue dapetin di sekolah lain, dan gue bener-bener menikmati buah dari kedisiplinan SMP gue itu.

Beberapa event basket yang gue ikuti (1)

Beberapa event basket yang gue ikuti (2)


Abaikan bentukan gue zaman SMP. -____-"

Begitu pula di SMA, masih bersekolah di yayasan yang sama (jadi sekolahnya punya SMP-SMA), karena lagi-lagi gue gagal masuk di sekolah yang gue pengin karena kebloonan gue yang lupa kapan tanggal test masuk SMA tersebut karena saking fokusnya gue ke UN SMP, terutama di mata pelajaran Matematika yang berhasil bikin gue stress dan takut nggak lulus karena gue emang sangat lemah di mata pelajaran itu. Di SMA ini, lagi-lagi Tuhan mengizinkan gue mengalami hal-hal luar biasa, Tuhan izinkan gue menjadi anggota OSIS dan memegang jabatan penting walaupun bukan Ketua OSIS lagi kayak di SMP, gue masih menjadi salah satu anggota tim basket yang dipercaya sekolah itu, gue diizinkan Tuhan untuk bertemu teman-teman yang membawa gue ke arah yang lebih baik lagi, teman-teman yang mendekatkan gue ke Tuhan lebih, lebih, dan lebih lagi. Masa-masa SMA gue luar biasa walaupun gue nggak bersekolah di SMA yang gue pengin. Tuhan bener-bener menempa gue di SMA tempat gue bersekolah dengan menitipkan bumbu-bumbu drama di dalam kehidupan remaja gue. Berantem sama sahabat, ditinggal sahabat, punya pacar, putus, berantem sama guru, nakal di sekolah, masa-masa SMA gue nggak terlupakan dan tetap terarah banget karena gue punya teman-teman yang takut akan Tuhan dan mengutamakan Dia di atas segalanya.

Tim basket zaman SMA, kyaaaa. *tebak gue yang mana* :p

Waktu SMA gue kerjaannya marah-marah mulu sama anak baru. :(
Dan mereka inilah yang membawa gue lebih dekat pada Tuhan. :))

Nggak beda jauh untuk kuliah. Gue udah nyiapin nilai dan jurusan yang gue pengin sejak gue kelas 1 SMA, tapi lagi-lagi gue gagal. Gagal di SNMPTN dan ketika gue mau nyoba Ujian Mandirinya, terhambat dengan biaya gedung yang nauzubillah mahalnya bisa buat DP kredit mobil. Gue nangis sejadi-jadinya dan ini kayak dejavu waktu itu gagal masuk di SMP yang gue pengin. Rasa kecewa, sedih, dan putus asa yang sama terulang lagi. Gue ngerasa apa yang gue persiapkan selama 3 tahun itu sia-sia. Bener-bener kecewaaaaa banget, malah gue ngerasa nggak adil ketika temen SMA yang nilainya nggak lebih bagus dari gue, bisa masuk di PTN yang gue mau. Sampe pada akhirnya gue kuliah di jurusan yang awalnya nggak pernah terpikirkan di otak gue sama sekali. Gue yang pengin kuliah jurusan Ilmu Komunikasi, jadinya malah kuliah di jurusan Manajemen Pariwisata. Tapi, lagi-lagi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa, di kampus gue sekarang ini, Tuhan pertemukan gue dengan sahabat-sahabat yang luar biasa, teman-teman yang keadaan keluarganya sama kayak gue, atau bahkan ada yang lebih parah daripada gue. Di kampus gue yang sekarang, hobi traveling gue tersalurkan karena banyak mata kuliah yang mengharuskan kita berkunjung ke berbagai daya tarik wisata dan praktik-praktik lapangan lainnya yang menyenangkan. Dan kuliah di jurusan gue yang sekarang ini tidak membuat impian gue menjadi jurnalis luntur begitu saja, gue tetap yakin suatu saat gue bisa mewujudkan mimpi gue yang satu itu, walaupun saat ini jalannya mungkin nggak gue pahami dulu.

Ini waktu praktik di Jogja. :D

Ini termasuk mata kuliah lho, jangan salah! :p


Pendidikan udah banyak halang rintangnya, ditambah kepergian Papa gue yang mengubahkan keadaan keluarga 180º sejak gue kelas 2 SMP. Saat Papa masih ada, bisa dikatakan hidup gue enak, apapun yang gue mau, Papa gue siap untuk mencukupi dan mengabulkannya. Saat Papa masih ada, gue manusia yang super manja (sekarang tetep manja sih, tapi udah nggak super. :p), hidup gue mulus, ke mana-mana masih pake mobil dan dianter supir, barang-barang gue semuanya ber-merk, gue minta ini dibeliin, gue minta itu diturutin, nggak peduli berapapun biayanya, Papa gue sanggup dan mau mengabulkan semua permintaan gue. Tapi…..dang! Semuanya berubah ketika Tuhan mengizinkan Papa berpulang pada-Nya. Hidup gue yang enak dan segalanya tercukupi, berubah menjadi prihatin, susah, dan bener-bener hilang semua fasilitas yang Papa sediain. Dari yang segalanya tercukupi, berubah menjadi hidup satu hari bisa cukup tanpa kekurangan aja udah Puji Tuhan banget. Kepergian Papa bener-bener mengubahkan gue menjadi seseorang yang lebih bisa bersyukur dengan keadaan yang ada, lebih bisa menghargai orang lain, menghargai hidup, menghargai yang namanya perjuangan, gue belajar  menjadi orang yang tidak mudah mengeluh, jadi orang yang lebih mandiri, kuat, dan tegar daripada sebelumnya, gue juga belajar menjadi seseorang yang bisa menerima keadaan sepahit apapun itu, kepergian Papa memang amat sangat mengubahkan gue. Sebenarnya, selain bersedih, kehilangan Papa itu membuat gue bersyukur, bersyukur karena kepergiannya, gue berubah jadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Nggak kebayang sifat dan karakter gue yang sekarang seperti apa kalo Papa gue masih ada di kehidupan gue, mungkin gue nggak kayak yang sekarang ini.  

Dari cerita-cerita gue di atas, gue memahami bahwa kuasa Tuhan atas hidup gue itu membuat gue belajar untuk bisa melihat hal-hal positif sekalipun di keadaan amat sangat terpuruk, yakin bahwa ada hal baik terselip di setiap masalah dan pergumulan yang ada. Gue belajar, bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik sekalipun gue merasanya semua yang gue rasain itu nggak adil. Gue belajar untuk menjadi orang yang mudah bersyukur di keadaan apapun, karena sesungguhnya bersyukur yang paling nikmat itu, ketika kita bisa bersyukur di keadaan terburuk kita. Gue belajar, bahwa rencana gue itu ternyata tidak lebih baik dari rencana yang Tuhan aturkan untuk kehidupan gue. Gue belajar, bahwa ketika memilih hidup lebih dekat lagi dengan Tuhan, gue harus siap menerima segala ujian yang Tuhan siapkan untuk gue semakin naik tingkat dan mengubahkan gue menjadi orang yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Gue belajar, bahwa ujian dari Tuhan itu adalah tanda Tuhan begitu sayangnya sama gue, yang ingin membentuk diri gue ini menjadi orang yang lebih tangguh, lebih mengandalkan Tuhan, ujian itu cara Tuhan untuk mengasah kita dari batu menjadi berlian yang amat sangat berkilau. Gue belajar, bahwa Tuhan itu amat sangat baik di setiap saat. Ketika gue egois, mementingkan diri gue sendiri dan nggak pernah datang ke hadirat-Nya untuk berdoa, Dia tetap memberikan gue segala yang terbaik sampe terkadang gue malu sendiri sama Tuhan karena begitu baiknya Dia sama gue yang masih hina ini. Kuasa Tuhan atas hidup gue emang sangat luar biasa dan begitu nyata, bersyukur boleh mengenal-Nya lebih dekat lagi, bersyukur Dia adalah salah satu bagian dalam hidup gue yang paling penting. :))

Aih, lagi-lagi gue curhatnya kebablasan panjang lebar gini. Huahaha. Sekiranya seperti inilah yang bisa gue share ke temen-temen semua, gue punya Tuhan yang luar biasa, yang membentuk dan menempa menjadi seorang gue yang seperti sekarang ini. Semoga bisa bermanfaat ya bagi yang membacanya. Hihi.
Lalu, bagaimana kuasa Tuhan atas kehidupan kalian, gaes? Sharing di comment box gue ya!

Thank you for reading! And Godblessya all.

Bonus foto keindahan ciptaan Tuhan :*




8 komentar:

  1. yang pasti hidup adalah tempat untuk belajar, menjadi lebih baik tentunya, GBU :)

    BalasHapus
  2. Kalau kata Ricardo Kaka, "I Belong to God!"

    Semoga selalu dalam berkah dan lindunganNya ya, kakak Bulan =)

    BalasHapus
  3. Kadang kita memang harus dijatuhkan, supaya bisa tau gimana cara untuk bangkit #eak

    BTW, itu di jaman SMP bener-bener gak keliatan seperti cewek ya kak :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. #Eeaaaakkkk.

      Begitulah wujud gue zaman baheula. :'D :'D

      Hapus
  4. Terus berjuang bulan.. :)

    Saat ini papa kamu sedang mengamati mu dari surga, dari sana beliau akan selalu membantu setiap doa yang sudah kamu pinta ke Tuhan.

    tetap semangat dan selalu bersyukur yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin amin amiiiiinnn.

      Terima kasih Kak Arie. :D :D

      Hapus

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik, maka gue juga akan menanggapinya dengan baik. Terima kasih sudah membaca postingan gue dan blogwalking di sini. Terima kasih juga sudah berkomentar. Have a great day, guys! Godblessya!