Rabu, 22 April 2015

Mengejar Sunrise di Bukit Sikunir




Pada tanggal 18 April 2015 yang lalu, gue bersama beberapa sahabat gue berkesempatan untuk main ke Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Karena udah terlalu lelah dan penat dihujani tugas-tugas yang banyak ngalahin banyaknya fans One Direction *ok, ini lebay*, jadilah gue bersama sahabat-sahabat gue merencanakan untuk menghabiskan waktu libur untuk main ke alam terbuka.




Sebenarnya ini rencana gue bareng 2 sahabat cewek gue, Eres dan Tiya, tapi karena kami pengen ke Dieng dengan mengendarai moto biar hemat biaya, jadi kami rasa kami perlu mengajak temen-temen cowok untuk menemani kami ke Dieng. Itung-itung main bareng sekaligus melindungi dan boncengin kami naik motor dari Semarang-Dieng yang memakan 4 jam perjalanan *ini bukan ojek-zone, cuma simbiosis mutualisme kok. Muehehe*. Syukurlah ada beberapa temen cowok yang mau diajakin main ke Dieng bareng, waktu itu ada Octav, Ryan, Rio, dan Farih yang mau diajak, ditambah Hanafi cowoknya Eres yang juga mau ikutan main bareng, lalu ada Novi dan Acil temen cewek seangkatan kami yang juga pengen diajak, jadilah kami genap bersepuluh akan berencana melakukan trip ke Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Rencana sudah kami atur sejak hari Senin, 13 April 2015, selama seminggu kami terus memantapkan persiapan untuk trip ke Dieng. Mengkoordinasi temen-temen dan memastikan kembali kalo mereka bisa ikut apa enggak. Sampe pada H-1 semua persiapan sudah benar-benar matang, hanya ada satu permasalahan, salah satu teman kami yang namanya Rio motornya ternyata bermasalah nggak bisa dibawa ke luar kota, jadi terpaksa dia nggak bisa ikut ditambah Acil juga nggak bisa ikut karena mendadak demam pada H-1. Jadilah yang benar-benar melakukan trip ke Dieng hanya 8 orang aja.

H-1 Eres sudah dengan gencar mengingatkan barang bawaan apa aja yang perlu kami bawa, karena dia yang sudah berpengalaman ke Sikunir, jadi dialah yang paling tahu situasi dan kondisi di Sikunir dan apa saja barang-barang yang perlu dibawa. FYI, ini barang-barang pribadi yang perlu dibawa kalo mau main ke Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, sapa tahu ada yang tertarik pergi ke sana setelah baca postingan gue ini. Muehehe.

-          -Baju ganti
-          -Baju hangat (jaket, sweater, dll)
-          -Penghangat tubuh tambahan (kupluk, sarung tangan, syal, phasmina, dll)
-          -Senter
-          -Jas hujan
-          -Snack dan makanan berat
-          -Air mineral 1 liter
-          -Perlengkapan mandi
-          -Powerbank

Itu untuk barang-barang pribadinya, dan karena kemarin kami memutuskan untuk camping di sana selama satu malam, jadinya kami juga perlu membawa perlengkapan camping seperti ;

-         - 2 tenda
-         - 8 sleeping bag
-         - 2 matras
-         - 4 head lamp
-         - 1 portable lamp

Karena kami bukan anak gunung sejati, tentu saja kami nggak punya perlengkapan camping yang gue sebutin di atas, jadi kami menyewa perlengkapan itu semua dan untungnya Hanafi tahu tempat menyewa perlengkapan camping kayak gitu. Untuk sleeping bag, gue nggak perlu nyewa karena gue punya sleeping bag pribadi. Eh ya sebenernya punya kakak gue yang emang anak gunung sejati sih, gue mah cuma minjem doang, itung-itung buat menekan budget trip kita. Kan lumayan tuh. Jadi, kira-kira begitulah bawaan kami yang cuma pergi 2 hari dan nginep 1 malem, udah kayak mau kabur dari rumah majikan aja ya?

Kami berangkat pada hari Jumat, 17 April 2015, kami berkumpul di rumahnya Eres yang terletak di Ungaran, Kabupaten Semarang untuk mengecek lagi semua perlengkapan yang sudah dibawa dan menunaikan ibadah Jumatan dulu bagi temen-temen cowok yang menjalaninya. Jadi gue, Tiya, Novi, Octav, Ryan, dan Farih yang berdomisili di Semarang berkumpul dulu di kampus kami tercinta untuk berangkat bareng ke rumahnya Eres. Dan pukul 11:00 siang kami sudah berangkat menuju rumahnya Eres, dan tiba di sana sekitar pukul 11:45 siang.

Sesampainya di rumah Eres, kami pun melihat Eres dan Hanafi mempersiapkan barang-barangnya. Kami di sana pun Eres mulai mengingatkan dan mengecek barang-barang bawaan kami, untunglah barang bawaan kami sudah komplit walaupun ada beberapa yang nggak kami bawa, seperti ada yang nggak bawa senter, sandal, baju ganti, dan beberapa barang pribadi yang dirasa nggak terlalu penting untuk dibawa. Tapi ya ada sih temen kami. Ryan yang paling parah, di saat tas temen-temen yang lain menggembung karena bawaannya banyak, Ryan dengan santainya bawa tas yang kempis banget nggak bawa barang-barang yang berarti, bawa penghangat tubuh yang lain enggak, bawa baju ganti enggak, bawa sandal enggak, bawa senter enggak, jas hujan apalagi. Entahlah, mungkin Ryan ini titisan Wiro Sableng yang kuat di segala kondisi, jadi nggak membutuhkan apa-apa untuk bertahan hidup. Males bawa barang banyak sama nekat emang beda tipis sih…..

Setelah kami ngecek barang masing-masing, Hanafi mulai membagikan sleeping bag untuk dibawa sendiri-sendiri dan membagikan head lamp buat yang nggak bawa senter. Dia pun juga mulai menata tenda dan matras yang akan kami bawa nantinya. Di antara kami berdelapan, hanya Hanafi yang pake carrier, sedangkan yang lainnya termasuk gue cuma pake tas ransel biasa. Udah keliatan ye, mana yang anak gunung beneran, mana yang anak gunung ala-ala. Huehehe. Dan setelah Hanafi menata semua perlengkapannya, dia pun langsung bergegas untuk ibadah Jumatan bareng Farih dan Ryan. Sedangkan Novi dan Tiya numpang sholat di kamar kakak iparnya Eres, gue dan Octav bengong nontonin film yang lagi ditonton adiknya Eres, sedangkan Eres keluar rumah sebentar untuk menjemput keponakannya dan membeli bekal untuk kami bawa ke Dieng.

Sekitar pukul 13:30 semua sudah kelar dengan urusan masing-masing dan berkumpul menjadi satu lagi. Sekali lagi kami pun mengecek barang-barang kami dan dijadikan satu untuk siap-siap berangkat dan mastiin agar nggak ada yang ketinggalan. Pukul 14:00 kami benar-benar siap untuk berangkat dan sebelum berangkat pun kami berdoa untuk memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah kami berdoa, kami pun berangkat, konvoi 4 motor udah kayak mau touring ke mana aja. Huehehe.

Perjalanan menuju Dieng bisa dikatakan lumayan lancar, walaupun kami sempet nyasar waktu kita sampai di Alun-alun Temanggung dan hujan mulai turun. Akhirnya waktu itu kami berhenti di masjid terdekat di Alun-alun Temanggung untuk menanyakan jalan dan menggunakan jas hujan. Setelah semuanya siap kembali, perjalanan pun dilanjutkan lagi. Dan lagi-lagi kami harus berhenti di perbatasan Temanggung-Wonosobo karena hujannya malah semakin deras. Sebenernya bisa lanjut sih nerobos hujan, tapi mengingat Ryan temen kami sang titisan Wiro Sableng itu nggak bawa jas hujan, jadi terpaksa kami berhenti untuk berteduh. Kebetulan tempat kami berteduh deket dengan warung bakso, jadi daripada bengong nungguin hujan, mending kita merapat ke warung bakso buat ngisi perut dan ngangetin badan. Dan Puji Tuhan, hujannya reda tepat saat kami selesai makan bakso. Setelah perut kenyang, hati senang, hujan reda, udara segar, perjalanan kami yang masih belum separuh jalan pun dilanjutkan dengan masih menggunakan jas hujan karena melihat langit yang masih gelap banget. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 16:00 sore.

Setelah hujan reda, perjalanan kami pun lumayan lancar, cuma memang sering berhenti di SPBU untuk mengisi bensin atau sekadar sholat dan buang air kecil. Saat itu udara udah lumayan dingin banget, jadilah kita sering berhenti-berhenti di SPBU untuk numpang buang air kecil. Dan akhirnya kami tiba di Wonosobo sekitar pukul 17:30. Petang itu kami disambut dengan pemandangan serba hijau di kanan kiri kami, namun sayang waktu itu kabut sudah turun jadi nggak terlalu kelihatan pemandangan yang ada di sekitar kami. Ditambah udara yang sejuk dan segar membuat kami bersemangat untuk segera sampe di Dieng. Pukul 18:00 kami pun tiba di kota Wonosobonya dan ketika sampai sana, Hanafi yang menjadi penunjuk jalan kami lupa dengan arah menuju Dieng, akhirnya kami pun berhenti lagi untuk bertanya pada tukang ojek yang waktu itu ada di sana. Setelah bertanya, maka perjalanan kami pun dilanjutkan deh, target kami yang ingin mencapai tempat perkemahan Bukit Sikunir sebelum matahari terbenam gagal karena selama perjalanan kami memang banyak berhenti di SPBU sih. Huehehe.

Perjalanan menuju ke Dieng itu bisa dikatakan lumayan ekstrim, gaes. Karena penerangan yang kurang, jalan yang naik-turun tanjakan, udara yang dingin banget dan waktu itu kabut tebal turun. Orang yang ngantuk nggak disaranin buat nyetir mobil atau mengendarai mobil ke Dieng, karena memang perlu konsentrasi yang penuh buat menyusuri jalannya. Sekali ngantuk apa nggak focus ya dadah babay aja ke jurang yang gelap dan dingin di sana *paan sih*. Saat kabut turun itu yang bener-bener bikin kita harus konsentrasi sama jalan, karena kabut bisa membuat jarak pandang kita jadi pendek banget, jarak beberapa meter aja udah nggak keliatan gara-gara kabut yang tebal. Apalagi di sana bener-bener sepi, baru ada pemukiman warga saat kami sudah sampai di kawasan Dieng Plateau.

Akhirnya kami tiba di tempat perkemahan Bukit Sikunir pukul 19:00, sebelum mencapai tempat perkemahannya, kami harus membayar tiket masuk area Bukit Sikunir ini seharga Rp.5000,-/orang. Saat kami sampai di tempat perkemahannya, kami langsung memarkirkan motor kami dan membayar parkir pada penjaga setempat sebesar Rp.5000,-/motor. Setelah kami semua siap dengan barang dan diri masing-masing, kami pun mulai berjalan menuju tempat perkemahannya. Sebelum kami mendirikan tenda dan segala macamnya, petugas keamanan di sana pun mengumpulkan kami berdelapan untuk melakukan briefing sebentar. Briefing ini dimaksudkan untuk petugas keamanan untuk menjelaskan segala peraturan yang ada di kawasan Bukit Sikunir kepada wisatawan yang datang. Selain itu petugas keamanan akan memeriksa barang bawaan kami untuk menghindari benda tajam, miras, bahkan narkoba yang mungkin saja dibawa oleh wisatawan yang datang berkunjung. Setelah dirasa aman dan terkendali, kami pun dimintai biaya pengelolaan tempat perkemahan sebesar Rp.10.000,-/tenda, jadi saat itu kami harus membayar Rp.20.000,- karena kami akan mendirikan 2 tenda di sana. Setelah semua urusan dengan petugas keamanan selesai, kami pun mulai mencari spot yang enak untuk posisi tenda kami. Kata Hanafi, kawasan perkemahan ini mengelilingi danau, semacam Ranu Kumbolo gitu deh, sayang waktu itu sudah gelap, jadi danaunya nggak keliatan. Akhirnya kami memilih spot yang tidak jauh dari tempat parkir motor kami dan WC umum.

2 tenda kami selesai dididirikan sekitar pukul 19:30. Sebenernya yang berkontribusi paling banyak mendirikan tenda itu ya para cowok-cowok sih, kami para cewek-cewek cuma bisa cerewet pengen tenda kita begini, begitu, jangan kayak gini, jangan kayak gitu, terus tahu-tahu udah jadi aja deh tenda kami. Hahaha. Setelah tenda selesai, kami pun mulai meletakkan barang-barang kami di dalam tenda dan mulai mengeluarkan snack dan bekal untuk dimakan bersama-sama. Waktu itu jam masih menunjukkan pukul 19:30 lebih dikit, tapi udaranya udah berasa dingin banget macam kami lagi di Korea atau di London. Setiap kami mengeluarkan nafas kami lewat mulut, keluar asap-asap gitu deh. Memang kami anak-anak norak, jadi seneng banget bisa kayak gitu, bener-bener berasa lagi nggak di Indonesia deh waktu itu. Huahaha. Akhirnya, kami menghabiskan malam kami dengan istirahat, makan, ngobrol, bercanda, tertawa dengan Farih sebagai bahan bully kami. Farih itu memang bullyable dan sudah dilapisi bullyproof sih, jadinya kalo kita nge-bully dia, dia mah cuma ketawa-ketawa nyengir kuda aja gitu deh.

Pukul 21:00 kami semua pun udah ngerasa ngantuk semua, setelah makan malam dengan bekal yang kami bawa, kami pun mulai masuk tenda masing-masing untuk beristirahat dan tidur. Karena badan udah bener-bener capek karena perjalanan yang jauh dan pukul 03:00 dini hari nanti kami harus bangun untuk persiapan pendakian bukit Sikunir. Semakin malem, udara semakin dingin. Saat itu gue tidur di sleeping bag sambil pake jaket dan kaos kaki, tangan gue yang masih kerasa dingin gue masukin ke kantong jaket, tapi celananya, celana pendek. Huehehe. Lama-lama badan gue pun beradaptasi dengan udara yang ada di sekitar. Awal-awal gue enggak bisa tidur karena udara yang dinginnya nauzubillah, tapi akhirnya lama kelamaan gue akhirnya bisa tidur juga karena badan gue udah bisa beradaptasi dengan suhu udara yang dingin mit-amit.
 
Gue emang nggak bisa tidur terlalu nyenyak, sering kebangun-bangun terus meremin mata lagi, sampe bener-bener kebangun gara-gara kebelet pipis, waktu itu gue liat jam tangan yang nggak gue lepas, eh ternyata udah pukul 00:00 aja. Gue enggak bangunin temen-temen yang udah pada bobok enak, yaudah deh gue keluar buat ke WC umum sendirian, daripada gue ngompol di tenda dan bikin rusuh malem-malem, akhirnya gue berani-beraniin keluar sendiri, sampe di WC umumnya, ternyata lampunya mati kayak kena pemadamam bergilir. Gue yang waktu itu nggak bawa senter atau penerang apapun akhirnya terpaksa buang air kecil gelap-gelapan. Bermodalkan iman dan ke-sok tahu-an kalo gue buang air kecil di tempat yang tepat dan nyiramnya sampe bersih (semoga). Setelah menunaikan ibadah buang air kecil gue balik lagi ke tenda dan akhirnya malah bisa bobok lumayan nyenyak setelah buang air kecil.

Pukul 03:00 dini hari, tenda gue udah rusuh, ternyata temen-temen gue udah pada bangun dan gue bangun paling terakhir sendiri. Elah, begitu bangun badan langsung pegel semua, kaki gue mati rasa karena kedinginan, udaranya semakin dingin, gaes. Begitu bangun gue langsung ngeluarin penghangat tubuh gue yang lain. Dinginnya bener-bener nusuk ke tulang, badan gue kaku dan menggigil nggak karuan, alergi dingin gue yang sebenernya sejak perjalanan ke tempat perkemahan Bukit Sikunir udah kumat, semakin menjadi-jadi, kurang asmanya doang ini mah. Maka dari itu untuk mengantisipasi itu, gue langsung pake sweater gue yang didobelin dengan kaos biasa sebelumnya, terus pake kupluk, pake celana panjang, dan terakhir pake sarung tangan. Lumayanlah, walaupun dinginnya tetep menusuk dan mendadak hidung gue meler nggak jelas, akhirnya gue keluar tenda dan ternyata dinginnya ngelebihin di dalem tenda, gaes. Karena semakin dingin, biar badan gue nggak kaku, gue pun jalan-jalan dan menggerak-gerakkan badan gue, jogging pelan, terus stretching. Lumayan, udah nggak terlalu dingin lagi rasanya, kayaknya badan gue juga udah mulai bisa adaptasi dengan dinginnya udara di luar tenda. Selain udara dinginnya yang luar biasa, langitnya juga menunjukkan keindahannya yang luar biasa. Bintang-bintang bertaburan, cantik dan keliatan lebih deket daripada biasa yang gue liat di Semarang. Bintangnya banyaaaakk banget, keren deh pokoknya langit Dieng kalo udah malem apalagi dini hari menjelang subuh. Bintang-bintangnya keliatan jelas dan banyak banget.

Setelah mengumpulkan nyawa selama 30 menit, kami semua pun mulai bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Kami membereskan barang-barang yang ada di tenda kami, melipat sleeping bag dan dijadikan satu di tendanya cowok, membawa makanan-makanan dan minuman yang masih ada, dan kami siap mendaki deh. Pukul 04:00 subuh kami pun berangkat mendaki Bukit Sikunir. Ini dia kesempatan yang selama ini udah gue tunggu-tunggu. Karena daridulu gue paling nggak mau kalo diajak main ke dataran tinggi yang harus mendaki, entah itu mendaki gunung atau bukit. Gue nggak mau karena gue punya sakit asma, gue takut kalo asma gue kambuh disaat gue mendaki gunung atau bukit yang notabene udaranya pasti dingin. Gue selalu takut dan jatuhnya selalu menolak ajakan mendaki dari temen-temen dulu, gue hanya nggak mau ngerepotin banyak orang dengan penyakit yang gue punya ini. Baru sekarang ini nih gue memberanikan diri buat mendaki bukit yang lumayan tinggi dan udaranya pasti dingin, karena Eres pun juga meyakinkan gue, kalo mendaki gunung atau bukit itu malah jadi terapi buat pengidap asma, yaudah jadilah gue berani buat diajak mendaki Bukit Sikunir, jadi pengalaman pertama gue ini. Wohooo!

Pendakian pun dimulai. Jalan setapak menuju puncak bukit dan sekitarnya sangat, sangat gelap. Itulah sebabnya kita disuruh bawa senter sama Eres, guna menerangi pendakian kita menuju puncak Bukit Sikunir. Gue yang nggak punya dan nggak bawa senter disuruh pake head lamp yang udah disewa Hanafi. Jalan setapak menuju puncak bukit itu lumayan licin dan curam, gaes. Gue akui, di sini gue merasa amat sangat kepayahan waktu mendaki Bukit Sikunir ini. Gue cepet capek, napas gue cepet habis, dan ya akhirnya ketakutan gue pun terjadi, asma gue kambuh tapi masih bisa gue kontrol, sesak di dadanya nggak ekstrim kayak gue kambuh biasanya. Kata Eres, untuk orang-orang yang terbiasa mendaki gunung, untuk mencapai puncak Bukit Sikunir itu hanya memerlukan waktu 15 menit karena ketinggian Bukit Sikunir hanya 2300 mdpl, nggak setinggi gunung-gunung lainnya. Tapi berhubung kemarin yang mendaki itu amatir semua, jadi perkiraan waktu kami untuk mencapai puncak adalah selama 30 menit. Yaaaahh karena kita kebanyakan berhenti dan istirahatnya sih, jalan 5 atau 10 menit doang, abis itu ngos-ngosan, berhenti, istirahat. Untung pada bawa coklat biar buat jadi penambah tenaga kita saat mendaki.

Setelah kepayahan setengah mati, napas abis, ngos-ngosan, keringetan, alergi dingin semakin menjadi-jadi sampe muke gue bengkak nggak karuan, akhirnya kami sampai juga di puncak Bukit Sikunir. Waktu itu pukul 04:30 subuh tapi puncak bukit udah rame sama manusi-manusia yang udah mendaki duluan. Akhirnya, karena kami mau dapet spot buat foto-foto yang bagus, kami pun mendaki puncak bukit yang lain, yang nggak jauh dari bukit utama yang udah penuh oleh lautan manusia. Dan Puji Tuhan, bukit yang kami daki waktu itu belum ditempati siapa pun, jadi kami manusia-manusia pertama yang menempati bukit lain selain bukit utama. Setelah mencapai puncaknya, kami berdelapan pun duduk beristirahat untuk mengatur napas dan menunggu sunrise, yang katanya sunrise paling indah se-Jawa Tengah bisa dilihat dari puncak bukit ini. Lama kelamaan orang-orang pun mulai berdatangan ke arah bukit tempat kami duduk, yah jadi banyak yang ikut-ikutan naik di puncak bukit kami deh, padahal pengennya cuma kami aja tuh yang ada di puncak itu. Hahaha.

Dan emang kesusahan kami mendaki itu nggak ada apa-apanya setelah melihat sunrise dan pemandangan di sekeliling puncak bukit. Bener-bener indaaaaahhh dan nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. Sunrise-nya kereeeeennn banget dan pemandangan di sekeliling puncak bukit itu bener-bener cantik. Jelas kami nggak menyia-nyiakan spot keren gitu aja dooongg, langsunglah kami…….selfie! Hahahha. Nggak selfie doang sih, jelas kami foto-fotok dengan objek yang luar biasa indahnya ini. Selfie pake HP-nya Eres, sedangkan foto-foto objeknya pake HP gue dan fotografernya Hanafi yang emang nggak mau ikutan foto. Hahaha. Abis ini gue bakal pamer hasil foto-foto gue selama di atas puncak Bukit Sikunir. Ahaaaayyy.

Menjelang sunrise~~

Gaes, sunrise-nya, gaeeesss.

Salah satu view yang ada di sekeliling puncak Bukit Sikunir


Mencoba selfie saat sunrise

Geng hura-hura. Uyeeee~~

Foto paling gue suka diantara semua foto yang ada. :))

Kita kalo bercanda di atas puncak bukit, kita mah emang gitu orangnya. xp~~

Gimana? Cakep-cakep kan hasil fotonya? Yang bikin cakep sih nggak objeknya doang yaa, modelnya jugalah, amat sangat menunjang hasil foto yang ada. Huahaha. Tapi emang asli Bukit Sikunir emang keren banget, gaeeeesss. Kalian perlu mengunjunginya ini, hanya perlu berjuang untuk mendakinya doang kok, setelah itu capeknya bakal ilang karena mata dimanjain dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa nyegerin mata. Puncak Bukit Sikunir, worth it to visit, guys!

Sekitar pukul 07:30 pagi, kami merasa udah puas memanjakan mata dan foto-foto di puncak bukit, akhirnya kami pun menuruni bukit deh. HP gue yang masih dibawa Hanafi masih dipake foto-foto juga, dia nggak cuma foto-foto selama kita ada di puncak bukit, tapi selama menuruni bukit dia juga ambil foto-foto kita dan hasilnya juga nggak kalah kerennya kayak di puncak bukit. Big thanks to Hanafi dah yang udah fotoin kita-kita yang narsis dan hasilnya bagus semuah. Hihihihi.

Nggak cuma mendaki bukitnya aja yang perjuangan, gaes. Menuruni bukitnya itu juga perjuangan loh, saking curamnya jalan setapak dan tangga tanahnya, kaki gue sampe gemeteran dipake buat menuruni bukit. Emang nggak secapek naik sih, tapi kaki gue berhasil dibikin gemeteran dan panas saat menuruni bukitnya. Hahaha. Sekitar pukul 08:00 kami sampe di bawah dan di area perkemahan lagi. Pemandangan selama turun bukit pun juga indah banget, gaes. 


Turun...turun...bukit....

Turun terus...turun teruuusss...

Keren kaaaann...

Ulalalala~~

Ini foto di jurangnya, beautiful escape banget nggak sih...

Sampe deh di area perkemahan, tuh danaunya dan tenda kita tuuhh. :D

Sesampainya kami di tenda, kami pun beristirahat sebentar sambil sarapan dan ngeliat hasil foto-foto di HP gue. Pagi itu gue baru ngeliat keadaan tempat perkemahan yang sebenernya gimana dan bener-bener indah juga karena di depan tenda kami itu danau dan tempat perkemahan ini memang mengelilingi danau, bener kata Hanafi, mirip Ranu Kumbolo, coy. Hahaha. Setelah dirasa cukup istirahatnya, kami pun mulai membereskan barang-barang kami untuk siaps-siap pulang. Dan sebelum pulang, kami cewek-cewek pun ganti baju dan pake parfum, malu kalo bau dan males juga mau mandi karena udara masih dingin banget dan air di WC umum katanya habis, yaudah kami ganti baju aja deh biar keliatan fresh. Setelah beres-beres barang dan dandan ala kadarnya, tenda kami mulai diberesin sama cowok-cowok. Tenda beres, barang-barang mulai dicek lagi dan dipersiapkan untuk dibawa pulang. Setelah semuanya tertata dengan rapi, akhirnya kami pun meninggalkan kawasan Bukit Sikunir dan pulang ke Semarang deh.

Jadi begitu deh pengalaman gue sama sahabat-sahabat mendaki Bukit Sikunir yang emang asli keren banget sih. Selama perjalanan pulang kami nggak ada masalah atau hambatan berarti, yang bikin gue males pulang adalah, saat kami menuruni jalanan Dieng, kami disuguhi pemandangan indah di kanan dan kiri kami. Semuanya warna hijau dan bener-bener nyegerin mata dan bener-bener indah banget. Semua yang gue liat itu lukisan Tuhan yang tiada tara indahnya, nggak ada yang bisa menandingi keindahan lukisan Tuhan deh pokoknya. Bener-bener nyenengin banget trip ke Dieng kemarin itu. Stress gue ilang semua bersama angiin dan udara dingin di sana, mata otak gue dijernihkan lagi dengan pemandangan yang ada. Bener-bener perjalanan yang berkesan dan bikin nagih.

Eh iya, ada cerita deng pas perjalanan pulang itu, temen kami yang bullyable alias Farih itu sempet nyasar karena sok tahu. Hahaha. Saat kami masih di Wonosobo, waktu itu kami sampe di jalan yang ada traffic light dan penunjuk arah jalan. Kami yang harusnya belok ke kanan arah Temanggung-Magelang, Farih malah belok ke kiri kea rah Weleri-Jakarta. Ryan, Tiya, Octav, dan gue yang ada di belakangnya jelas bingung dong kok dia malah belok kiri, mau dikejar juga udah jauh karena Farih kalo mengendarai motor suka ngebut macam Valentino Rossi. Akhirnya malah Hanafi, Eres yang mencoba ngejar Farih, tapi sayang udah terlalu jauh dan untung Farih masih bisa ditelpon dan suruh balik. Ada tuh 15 menit Cuma buat nunggu Farih balik lagi ke arah dan jalan yang benar. Kayaknya Farih sama Novi yang satu motor itu sama-sama ngantuk sampe-sampe nggak bisa ngeliat penunjuk arah jalannya sampe-sampe harus sok tahu belok ke arah yang salah. Satu-satu dari kami pun nge-bully Farih lagi deh, emang ini anak bullyable deh ya. Dan setelah tragedi Farih nyasar, Puji Tuhan perjalanan pulang kami aman sampe di Ungaran, rumah Eres. Kami transit dulu di rumah Eres untuk beristirahat sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Selesai sudah perjalanan 2 hari 1 malem gue bareng sahabat-sahabat, bener-bener menyenangkan dan kami merencanakan trip lagi dan kami berencana mau mendaki gunung lagi, kali ini kami ingin mendaki Gunung Andong. Wish us luck, ya, semoga rencana kedua bisa berjalan lebih lancar dari trip kami ke Dieng ini. Hihihi. Jadi begitulah cerita kami mengejar sunrise di Bukit Sikunir, gaes. Saran gue Cuma satu, kunjungilah bukit keren ini karena gue yakin, lo nggak bakal nyesel udah susah payah mendaki bukit ini, hasil yang lo dapetin lebih dari capek yang lo rasa. Kalo kata Koko Denny Sumargo sih gini,

“Masih di rumah aja? Indonesia kita indah, loh!”

Gue cukupkan postingan gue di sini, komentar terbuka bagi siapapun!






Thank you for reading! And God bless ya all!












Pictures by : My documents. 

(Untuk yang menanyakan gue pake HP apa, gue nggak pake iPhone kok. Gue pake Sony Xperia T2 Ultra. :D) 

 




















20 komentar:

  1. Eh Sikunir ada tulisan gede gitu yak? Eh sekarang katanya ramai banget yak pengunjungnya kayak cendol? Aku dulu ke sana masih sepi dan belum banyak orang ngecamp dan memang spektakuler :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah ada, Kaaakk. Hahaha. Iya rame banget macam di taman rekreasi, apalagi kalo malem Minggu, katanya lebih rame lagi. Hehehe.

      Enak dong ngecampnya sepi. :)))

      Hapus
  2. waaah keren,,, eh tapi saya salut juga sama kamu yang punya alergi dingin dan asma tapi tetep mau mendaki :) semoga asma dan alerginya segera sembuh dengan sering-sering mendaki ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasiiihh. Karena emang dasarnya hobi travelling sih, jadi nyoba lawan penyakitnya aja. :)

      Amin! Terima kasih yaaaa. :D

      Hapus
  3. Kereen kk, Dieng "Negeri di Atas Awan"

    Welcome to my hometown, Wonosobo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya emang keren bangeeettt.

      Your hometown is so awesome! :D

      Hapus
  4. Sunrisenya keren bangeeet.. :D Kalok ke sana harus rame-rame yah. Ngga bisa solo traveling kayaknya. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mau nekat bisa-bisa aja sih. Tinggal mau apa enggak. Huehehe. :D

      Hapus
  5. keren bangeet tempatnyaaaa :"( tapi jauh ya..... dari rumah *kemudian hening*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ada yang namanya tempatnya jauh kalo emang niat main ato travelling. :)

      Hapus
  6. Foto-fotonya cakep cakep, pemandangannya juga cantik, kalo modelnya sih jangan tanya. perpaduan keduanya :))))

    BalasHapus
  7. Kereeeennn kapan bisa traveling kaya gitu. huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan pun bisa, jangan nanya, bertindaklah! ;)

      Hapus
  8. Saya mau tanya nih. Motornya bisa di parkir di depan tenda ga ya? Saya dari jakarta. Saya mau kesana akhir agustus ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bisa kalau di depan tenda. Udah ada tempat parkirnya sendiri kok, nggak terlalu jauh juga sama camping area. Tenang aja, aman kok dijaga sama penduduk sana. :)

      Hapus
  9. ah, nice post. Kebetulan saya belum pernah ke Sikunir dan baru akan kesana. Thanks untuk beberapa informasinya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak, senang bisa berguna infonya. :)

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Pengen bawa anak ke sana kira-kira kuat ga yaaaa

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik, maka gue juga akan menanggapinya dengan baik. Terima kasih sudah membaca postingan gue dan blogwalking di sini. Terima kasih juga sudah berkomentar. Have a great day, guys! Godblessya!